opini

Taubat Ruhani di Bulan Suci

Selasa, 4 Maret 2025 | 07:19 WIB
Mohamad Sinal

Bulan Ramadan adalah musim semi bagi jiwa-jiwa yang ingin kembali. Udara Ramadan penuh dengan keberkahan. Suara azan yang menggema membawa panggilan Ilahi mengajak pada kebahagiaan.

Setiap rakaat dalam salat, setiap tetes air wudu, dan setiap helaan nafas seorang hamba adalah peluang untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Sungguh kesempatan yang luar biasa, bagi siapa saja yang mengimaninya. Kesempatan yang tidak boleh disia-siakan untuk mendapatkan rahmat dan ampunan.

Jalaluddin Rumi menuliskan dalam bait puisinya, "Datanglah, datanglah, siapa pun dirimu. Meskipun kau telah melanggar janji seribu kali, datanglah. Pintu rahmat ini tak pernah tertutup." Begitulah luasnya kasih sayang Tuhan dan ampunan-nya yang tak terhingga.

Menjaga Cahaya Taubat, Kembali kepada Fitrah

Namun, bagaimana setelah bulan suci berlalu? Apakah semangat taubat akan tetap menyala, ataukah hanya redup seiring hilangnya suasana Ramadan? Itulah tantangan terbesar bagi setiap insan.

Taubat sejati bukan hanya janji yang diucapkan dalam suasana haru di bulan suci. Ia adalah komitmen yang terus dijaga hingga akhir hayat. Sebagaimana cahaya lilin yang harus dilindungi dari angin.

Begitu pula cahaya taubat, yang harus terus dipelihara dengan amal kebaikan. Ibadah yang istiqamah di antara upaya untuk menjaganya. Menjauhkan diri dari segala godaan yang dapat menggelincirkan kembali ke jurang kesalahan.

Sufyan ats-Tsauri berkata, "Bukanlah yang penting menangis saat bertaubat, tetapi bagaimana engkau menjaga dirimu setelahnya." Jika Ramadan adalah awal dari perjalanan baru, bulan-bulan setelahnya adalah ujian yang akan kita tempuh. Iman harus terus disirami, hati harus terus dirawat, agar cahaya di bulan suci ini tidak sampai pudar kembali.

Taubat ruhani di bulan suci bukanlah sekadar ritual, tetapi perjalanan spiritual. Mengantarkan kembali ke fitrah kita yang suci. Di mana setiap detik adalah peluang untuk mendekatkan diri, dan pintu-pintu ampunan terbuka lebar bagi hamba yang ingin kembali. Menemukan kedamaian sejati di dalam dekapan Yang Maha Pengasih.

*Penulis adalah Corporate Legal Consultant, ahli bahasa hukum, founder Pena Hukum Nusantara, dan dosen Polinema.

Halaman:

Tags

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB