opini

Catatan Akhir Tahun: Buku, Kata dan Masa Depan

Selasa, 31 Desember 2024 | 14:00 WIB
Ilustrasi buku harian (Pixabay)

Oleh: Muhammad Subhan

Tahun 2024 berlalu seperti angin kencang, menghantam dan menyapu jejak-jejak yang pernah kita pikir akan abadi.

Dan, di pengujung tahun ini, di bilik permenungan, saya menatap kembali perjalanan kepenulisan yang dimulai sejak masa remaja di Aceh, ketika mimpi-mimpi masih begitu murni. Saat itu, pena menjadi teman setia, membawa saya melintasi waktu hingga akhirnya berlabuh di Padang pada tahun 2000. Kota itu membuka pintu ke dunia jurnalistik, dunia yang menjadi panggung pertama tempat saya menggantungkan hidup dari pekerjaan tulis-menulis.

Tahun 2006, saya mulai aktif di media sosial, terutama Facebook, ketika masih menjadi wartawan di sebuah koran harian di Padang. Pada saat itu, Facebook adalah ruang baru, serupa pasar malam digital tempat cerita-cerita kecil dibagi, gagasan dilemparkan, dan komunitas penulis tumbuh. Menulis di media sosial memberi saya cara baru untuk berinteraksi dengan pembaca, meskipun tetap ada nostalgia yang tersisa untuk kertas dan tinta.

Sebelum tahun 2010, industri cetak adalah lahan subur yang menjanjikan. Buku-buku terbit dalam ribuan eksemplar; koran harian dicetak setiap pagi dengan keyakinan bahwa mereka akan habis dibeli sebelum siang. Masa itu, saya tidak pernah meragukan bahwa kepenulisan bisa menjadi tumpuan hidup. Ada kepuasan luar biasa ketika tulisan kita dipegang, dibaca, dan disimpan oleh banyak orang.

Namun, badai datang tanpa aba-aba. Di tahun 2019, industri cetak mulai menghadapi apa yang saya sebut “tornado”. Kemajuan teknologi digital menghantam tanpa ampun. Buku-buku, koran, dan majalah, yang dulu menjadi simbol keabadian gagasan, kini dipaksa bersaing dengan layar yang lebih tipis dari kertas, tetapi mampu memuat dunia. Pandemi COVID-19 pada 2020 hingga 2022 hanya memperparah segalanya. Banyak penerbit tutup, percetakan gulung tikar, dan toko buku beralih fungsi menjadi usaha lain atau pusat perbelanjaan. Saya menyaksikan banyak kolega, sesama penulis, menyerah pada kenyataan yang pahit ini.

Bagi saya, pandemi adalah ruang kontemplasi. Pertanyaan besar melintas: apakah masa depan buku cetak masih ada? Apakah pena saya masih bisa menghasilkan cukup uang untuk bertahan hidup?

Di saat-saat seperti itu, saya teringat pada alasan mengapa saya mulai menulis. Menulis, bagi saya, adalah cara untuk memahami dunia, untuk meninggalkan jejak, dan untuk berbagi segala hal perihal kemanusiaan. Namun, kenyataan berkata bahwa menulis saja tidak cukup.

Kini, kita hidup di era di mana teknologi digital bukan lagi pelengkap, tetapi inti dari segalanya. Penulis harus belajar menjadi kreator, bukan hanya pencipta kata-kata tetapi juga pemahat narasi di berbagai medium. Buku fisik mungkin tidak akan pernah sepenuhnya punah, tetapi perannya telah berubah. Ia tidak lagi menjadi satu-satunya pintu masuk ke pengetahuan dan hiburan. E-book, podcast, video, bahkan media sosial telah menjadi alternatif yang dominan.

Saya belajar untuk menerima perubahan ini dengan perlahan. Inovasi adalah kunci untuk bertahan. Di tengah semua ini, saya mulai mengeksplorasi cara baru untuk menggantungkan hidup dari menulis. Sebagian penulis telah masuk ke platform-platform digital yang menawarkan ruang bagi penulis untuk mempublikasikan karya dan mendapatkan pendapatan. Sebagian yang lain menghidupkan kembali minat pembaca melalui buku-buku audio, yang memungkinkan mereka mendengar cerita saat mereka mengemudi atau memasak. Juga berbagai peluang lain sesuai dengan perkembangan zaman. Benar, setiap saat medium berubah, tetapi esensi dari menulis tetap sama: berbagi cerita, menyentuh hati siapa saja.

Namun, ada rasa kehilangan yang tak terhindarkan. Menulis di dunia digital adalah tentang angka: likes, views, shares. Kadang-kadang saya rindu pada keheningan ruang baca di toko buku, di mana orang memegang buku, membalik halamannya dengan hati-hati, seolah setiap kata adalah sesuatu yang berharga. Dunia digital, meskipun penuh peluang, terasa seperti arena yang hiruk-pikuk. Menulis tidak lagi cukup menjadi karya, ia harus menjadi produk yang dijual.

Tapi di tengah semua itu, saya tetap optimis. Saya percaya bahwa masih ada harapan bagi penulis untuk bertahan. Dunia mungkin berubah, tetapi kebutuhan manusia akan cerita tidak akan pernah hilang. Penulis harus terus beradaptasi, tidak hanya dengan teknologi tetapi juga dengan cara berpikir baru tentang apa artinya menjadi seorang kreator. Menulis buku cetak mungkin tidak lagi menjadi satu-satunya jalan, tetapi ia masih bisa menjadi pijakan untuk hal-hal lain: seminar, workshop, atau bahkan konten digital yang lebih beragam.

Pada akhirnya, menulis adalah tentang keberanian. Keberanian untuk bermimpi, untuk bertahan, dan untuk berubah. Dunia akan terus berputar, membawa kita ke era yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Tetapi selama ada cerita untuk diceritakan dan hati yang mau mendengar, saya percaya bahwa pena saya akan terus menari.

Tahun ini, saya menutup halaman dengan rasa syukur. Syukur karena meskipun badai “tornado” telah menghantam, saya masih berdiri di sini, di kaki Singgalang, dengan pena di tangan dan cerita di kepala. Tahun depan mungkin membawa badai yang lebih besar, tetapi saya siap. Karena saya tahu, selama ada kata, saya tidak akan pernah kehilangan arah. Apalagi jika di meja ada sahabat setia yang tak pernah menyakiti dan selalu membawa bahagia: “Teh Telur”!

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB

Menenun Kebangkitan Adab

Rabu, 20 Mei 2026 | 18:20 WIB