Tjiandjoer dan Thariqoh Tijaniyah
Oleh: Heri Firmansyah
Menurut Azyumardi Azra dalam Historiografi Islam Kontemporer, neosufisme tersebut mengalami proses pematangan di Haramain, Makkah dan Madinah. Pada masa itu, banyak ulama, termasuk juga ahli tafsir dan hadis, aktif dalam kegiatan sufisme..al-Tijani termasuk di antara ulama yang menimba ilmu di Haramain ketika neosufisme itu berkembang pesat. Berikut kilas rekam jejak Syekh al-Tijani dan perkembangan Tarekat Tijaniyah.
Tarekat Tijaniyah berdiri pada tahun 1195 H/1781 M di Fes, Maroko, Afrika Utara. Pendirinya adalah Abu Abbas Ahmad bin Muhammad bin Mukhtar bin Salim al-Tijani. Ia lahir di 'Ain Madi, sebuah desa di Aljazair, tahun 1150 H/ 1737 M dan meninggal dunia pada 1230 H/ 1815 M.
Tarekat Tijaniyah dibawa masuk ke Indonesia kira-kira tahun 1920-an oleh seorang ulama kelahiran Makkah, Ali bin Abdullah at-Tayyib al-Azhari. Awal perkembangannya di Tanah Air, mendapatkan penentangan dari tarekat-tarekat lain yang lebih dahulu ada dan telah mapan, antara lain Naqsyabandiah, Qadiriyah, Syattariah, Syazaliah, dan Khallawatiah. Meski demikian, di beberapa tempat, tarekat ini terus berkembang, utamanya di Cirebon dan Garut (Jawa Barat), Madura, dan ujung Timur Pulau Jawa.
Perselisihan itu reda setelah Muktamar Jam'iyyah Nahdlatul Ulama ke III tahun 1928 di Surabaya memutuskan bahwa Tarekat Tijaniyah adalah muktabarah (diakui secara absah). Keputusan tersebut diperkuat kembali di dalam Muktamar NU ke VI tahun 1931 di Cirebon, bahwa Tarekat Tijaniyah termasuk dalam kategori tarekat yang muktabarah.
Saat ini Tarekat Tijaniyah merupakan salah satu dari 43 Tarekat Muktabarah Indonesia atau tarekat yang diakui keabsahannya. Jumlah jamaah tarekat ini di Tanah Air sekitar 10 juta jiwa. Dan, sekitar 40 persen dari mereka adalah kalangan kiai dan pemimpin pondok pesantren, yang tersebar di 14.657 pesantren.
Tjiandjoer dlm lintasan Tariqoh Tijaniyah
Dalam buku fragmenta islamica Studien over het islamisme in Nenderlandsch-Indie yg terbit tahun 1934 dengan 195 hal (perpustakaan universitas Utrecht) yang di tulis oleh Guillaume Frederic Pijper, yang kemudian diterjemahkan pada tahun 1987 oleh prof dr Tudjimah..pada hal- 86 dijelaskan "
Perlu juga diberotahukan sedikit tentang orang arab itu (Ali b abd Allah al -Thayyib al-al-Azhari,) Ketika saya bertemu dengannya pada tahun 1929 ditempat tinggalnya di cianjur, ia sudah lanjut usia.Ia termasuk ulama arab yang berpundah pindah tempat seperti yang sudah dibicarakan.*a dilahirkan di madinah, sejak umur sembilan tahun, ia belajar ilmu ketuhanan dikairo selama duapuluh tahun, kemuadian bertempat tinggal di Mekkah sebagai guru agama. Sesudah enam tahun, ia kembali ke kotak3lahirannya dan menjabat Amin al Fatwa, sepuluh tahun kemudian, ia pergi ke pulau jawa. Pertama tama sebagai Mudir Madrasah Mu awanat al ikwan sebuah sekolah baru di cianjur kepunyaan beberapa orang arab. Sesudah yiga tahun, ia berpindah ke Madrasah al falah al wahidiyah, sebuah sekolah yg terletak di bogor sesudah dua tahun mengajar ilmu agama kepada guru guru agama bumi putra terutama ilmu hadis dan tafsir, ia kembali ke cianjur bertempat tinggal di lereng Gunung gede."
Selain menulis buku Fragmeta Islamica.G.F Pijper juga menulis "De opkomst der Tidjaniyah op Java"..(Bangkitnyaa Tijaniyaah di pulau jawa) - 98 hal Utrech Universitas.
Sejauh mana kemudian tariqoh tijaniyah mengalami perkembangan dari masa ke masa di tjiandjoer perlu ada penelitian lebih lanjut, hemat penulis semoga catatan awal ini bermamfaat terhadap identifikasi yang lebih menyeluruh melaui sumber data sejarah lainnya...wallahu alam bish shawab