Oleh : Siti Hanna Nur Asyiah
Sebagai Negara Muslim terbanyak di dunia, Indonesia memiliki sejumlah organisasi-organisasi Islam yang berkembang di masyarakat sebagai wadah untuk mengembangkan dan menjalankan syariat Islam. Salah satu organisasi keagamaan berbasis Islam yang terbesar di Indonesia adalah organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU). NU diyakini mampu membawa Islam yang bersifat :
• Tawazzun (Seimbang),
• Tawasuth (Moderat),
• Tasamuh (Toleran) dan
• Ta’addul (Adil).
NU merupakan organisasi Islam yang mana dulunya adalah partai politik di era orde lama dan telah bergabung dengan partai Masyumi.
Masyumi adalah organisasi satu-satunya yang pada masa Jepang diperbolehkan mengadakan kegiatan sosial.
Beberapa organisasi Islam yang bergabung dalam organisasi Masyumi merupakan organisasi dari Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Namun, NU memisahkan diri dari Masyumi karena Masyumi mengikuti politik praktis dan telah dianggap mengikuti pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia( PRRI ).
Dalam keorganisasian NU, organisasi ini memiliki anak cabang untuk memperluas jaringan dakwah mulai dari yang tua sampai yang muda. Bisa dikatakan badan organisasi yang dimiliki oleh NU sangat lengkap. Seperti : Anshor, GP Anshor, Muslimat Fatayat, IPNU-IPPNU (tingkat pelajar), PMII (tingkat kemahasiswaan).
sebagai basis intelektual mahasiswa PMII ini bersifat Ahlusunnah Wal Jamaah. PMII dan NU dalam perkembangan sejarahnya memiliki cerita yang cukup luar biasa.
Awalnya saat NU masih bergabung dengan masyumi, NU dan Masyumi telah membentuk organisasi islam kemahasiswaan pertama dengan nama HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Ketika HMI dianggap terlalu dekat dengan Masyumi, NU mendirikan organisasi islam dikalangan mahasiswa dengan alasan supaya NU mempunyai organisasi yang khusus menampung mahasiswa Nahdilyin.
Keputusan NU untuk membuat organisasi islam dalam kalangan mahasiswa didukung penuh oleh mahasiswa Nahdliyin.
Inilah cara yang selalu diteriakan oleh para mahasiswa nahdliyin pada waktu itu. Dan mereka pun merasa perlu segera melakukan langkah-langkah tertentu untuk meyakinkan supaya semua pihak yang berkepentingan, bahwa dalam lingkungan Nahdliyin sudah muncul banyak generasi muda yang berpendidikan perguruan tinggi.
PMII awalnya lahir sebagai (Badan Otonom) NU yang didirikan Pada tanggal 17 April 1960 oleh 13 Mahasiswa NU diantaranya :
Kholid Mawardi
Nuril Huda Suaidi
M Said Budairy
Laily Mansyur
M Sabich ubaid
Abd Wahab Jaelani
Makmun syukri Hidzbullah Huda
Hilman
M kholid Narbuko
Ismail
Makki Ahmad Hussein
Munsif Nakhrowi
Dan PMII ketika itu diketuai oleh MAHBUB DJUNAIDI pada saat itu anggota dari IPNU tidak percaya diri dan ingin ada organisasi di lingkungan mahasiswa, karena IPNU adalah organisasi kalangan remaja saja bukan kalangan dari mahasiswa, dan dengan itulah IPNU mempunyai alasan untuk mendirikan organisasi mahasiswa. yang didalamnya terdapat orang yang berintelektual khususnya dari mahasiswa Nahdliyin.
PMII adalah organisasi mahasiswa yang beridologi Ahlussunnah Wal Jamaah (sama dengan ideologi NU) juga. Ideologi ini tidak terlepas dari peran PMII yang terlahir dan menjadi badan otonom dari NU.
Dan PMII juga dibentuk dengan landasan keislaman dan kebangsaan yang keduanya tidak bisa dipisahkan serta berasaskan pancasila dan ASWAJA. Selain landasan yang dua ini terdapat Nilai Dasar Pergerakan nya (NDP), menekankan aspek ketuhanan (Hablumminallah), kemanusiaan (Hablumminannas), dan kelestarian alam semesta (Hablumminal alam). Serta dilatih bagaimana cara pandang kritis.
Dari proses sejarahnya, hubungan PMII dan NU sulit dipisahkan karena PMII lahir dari NU dan menjadi badan Otom. PMII lahir dari keinginan mahasiswa nahdlyin dan organisasi kepemudaan NU yaitu IPNU dengan harapan PMII dapat menampung aspirasi dari mahasiswa nahdlyin dan NU mempunyai kader berintelektual.