Disodorkan pada suasana semacam ini, tentu kita sepakat bila peringatan Hari Tani 2024, dapat dijadikan momentum untuk melakukan perbaikan nasib dan kehidupan petani ke arah yang lebih sejahtera.
Hari Tani merupakan peluang untuk memutus lingkaran setan kemiskinan, yang membuat petani terjerembab di dalamnya.
Jujur kita akui, selama ini para petani di negeri ini, terlihat lebih cocok untuk disebut sebagai "korban pembangunan" ketimbang dikatakan sebagai "penikmat pembangunan".
Dalam pengembangan dan pembangunan Kawasan Industri atau pembangunan infrastruktur dasar misalnya, para petani selalu terpinggirkan oleh kepentingan pembangunan.
Menjadi penikmat pembangunan, jelas tidak identik dengan hidup mewah dan berfoya-foya. Penikmat pembangunan, tidak harus diukur oleh kemampuannya menyeqa Jet pribadi untuk jalan-jalan ke luar negeri.
Tidak juga dinilai dengan dimilikinya mobil mewah sekelas Toyota Alphard. Namun penikmat pembangunan bisa juga dipertontonkan dengan gaya hidup bersahaja.
Seorang petani padi yang memiliki lahan sawah terbatas misalnya, tampak menikmati betul jerih payah upayanya bercocok-tanan padi.
Produksi yang dihasilkannya meningkat cukup signifikan dan harga jualnya pun cukup menguntungkan. Sambil bersyukur kepada Sang Pencipta, dirinya terlihat betul-betul dapat menikmati kehidupannya.
Pertanyaan kritisnya, mengapa sampai saat ini, Pemerintah masih belum mampu secara berkelanjutan, menciptakan suasana yang demikian ? Apa susahnya, bila setiap musim panen tiba, Pemerintah dengan kekyasaan dan kewenangan yang digenggamnya mampu mengendalikan harga jual di tingkat petani, sehingga memberi keuntungan optimal bagi petani ?
Jawabannya tegas, mestinya Pemerintah mampu mewujudkannya. Tantangannya, apakah momentum peringatan Hari Tani 2024 dapat dijadikan tonggak ke arah terjadinya perubahan tersebut ?
Ya, sudah saatnya petani di Tanah Merdeka, benar-benar tampil sebagai "penikmat pembangunan". Dirgahayu Petani Indonesia !
(Penulis, Ketua Harian DPD HKTI Jawa Barat)