opini

Ketaatan dan Sikap Kritis kepada Penguasa

Senin, 16 September 2024 | 16:00 WIB
Ilustrasi. Penguasa Zalim tempatnya neraka./net

عن أُمِّ المؤمنين أم سلمة هند بنت أَبي أمية حذيفة رضي الله عنها، عن النَّبيّ صلى الله عليه وسلم أنه قَالَ: ((إنَّهُ يُسْتَعْمَلُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ فَتَعرِفُونَ وتُنْكِرُونَ، فَمَنْ كَرِهَ فَقَدْ بَرِئَ، وَمَنْ أنْكَرَ فَقَدْ سَلِمَ، وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ)) قَالوا: يَا رَسُول اللهِ، ألا نُقَاتِلهم؟ قَالَ: ((لا، مَا أَقَامُوا فيكُمُ الصَّلاةَ)). رواه مسلم.

Dari Ummui mu'minin iaitu Ummu Salamah yakni Hindun binti Abu Umayyah yakni Hudzaifah radhiyallahu 'anha, beliau ﷺ bersabda : "Bahawasanya saja nanti itu akan digunakanlah beberapa pemimpin negara - amir-amir, maka engkau semua akan menyetujui mereka, kerana kelakuan mereka itu sebahagian ada yang sesuai dengan syariat agama, tetapi engkau semua pun akan mengingkari mereka-sebab ada pula kelakuan-kelakuan mereka yang melanggar syariat agama.

Maka barangsiapa yang benci - dengan hatinya, ia terlepaslah dari dosa, juga barangsiapa yang mengingkari, ia pun selamat - dari siksa akhirat. Tetapi barangsiapa yang redha serta mengikuti -pemimpin-pemimpin di atas, itulah yang bermaksiat."
Para sahabat bertanya: "Ya Rasulullah, apakah tidak perlu kita memerangi mereka itu?" Beliau ﷺ bersabda: "Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat bersamamu semua." (Riwayat Muslim)

*Pelajaran yang terdapat di dalam hadits* :

1️⃣ Maknanya ialah bahwa barangsiapa yang membenci kepada pemimpin-pemimpin yang suka melanggar syariat agama itu dengan hatinya, kerana tidak kuasa mengingkari mereka dengan tangan atau lisannya, maka ia telah terlepas dari dosa dan ia telah pula menunaikan tugasnya.

2️⃣ Juga barangsiapa yang mengingkari dengan sekadar kekuatannya, ia pun selamat dari kemaksiatan ini.

3️⃣ Tetapi barangsiapa yang redha dengan kelakuan-kelakuan mereka serta mengikuti jejak mereka, maka itulah orang yang bermaksiat.

4️⃣ Mengomentari hadis di atas, Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahîh Muslim menjelaskan: yakni siapa yang membenci kemungkaran itu, maka dia terbebas dari dosa dan sanksinya. Ini bagi orang yang tidak mampu mengingkari kemungkaran penguasa dengan tangannya dan tidak pula dengan lisannya.

5️⃣ “Wa lakin man radhiya wa tâba’a” bermakna: Akan tetapi, dosa dan sanksi itu atas orang yang rida dan mengikuti (kemungkarannya).

6️⃣ Di sini ada dalil bahwa orang yang tidak mampu menghilangkan kemungkaran, ia tidak berdosa semata karena diam, melainkan dia berdosa karena rida terhadap kemungkarannya atau tidak membenci kemungkarannya dengan hatinya, atau dengan mengikutinya.

7️⃣ Nasihat/kritik (muhasabah) kepada penguasa itu juga bukan karena atau demi kepentingan dunia, melainkan karena kepentingan akhirat, yakni melaksanakan kewajiban dari Allah Subhanahu wa ta'ala .

8️⃣ Sekalipun demikian, muhasabah kepada penguasa itu akan memberikan kebaikan di dunia. Sebab dengan itu, masyarakat biasa terhindar dari keburukan akibat kemungkaran penguasanya.

*Tema hadits yang berkaitan dengan Al Qur'an* :

- Ketika pemimpin atau penguasa itu melakukan kemungkaran, artinya dia melakukan kezaliman. Dalam hal yang demikian, haram mendukung kezaliman itu. Jangankan mendukung, bahkan sekadar cenderung kepada pelaku kezaliman saja haram dan konsekuensinya sangat berat.

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB