opini

Potret Pilgub Jakarta, Pembusukan Demokrasi dan Bumbung Kosong

Sabtu, 31 Agustus 2024 | 08:00 WIB
Ketua Komisi Pemilihan Umum Hasyim Asy’ari bersama sejumlah pemimpin KPU memimpin rapat pleno terbuka rekapitulasiperolehan suara tingkat nasional untuk Provinsi Jawa Barat di Kantor KPU, Jakarta, Selasa (19/3/2024). (Nadya Kamila )

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,” (QS Al-Baqarah: 216).

Aku adalah rakyat Jakarta. Aku hanyalah seorang yang percaya pada kekuatan demokrasi, seseorang yang pernah berharap bahwa suara rakyat bisa mengubah masa depan.

Namun, hari ini, aku merasakan perih yang tak pernah ku duga sebelumnya—perih yang muncul dari ketidakadilan yang dilakukan oleh mereka yang seharusnya melindungi demokrasi.

Ketika aku mendengar kabar bahwa Anies Baswedan gagal dalam pencalonan Pilgub Jakarta, hatiku seperti tertikam.

Bukan karena aku pengagum Anies semata, tetapi karena ini adalah bukti nyata bahwa demokrasi yang kita junjung tinggi telah dirusak oleh mereka yang memiliki kuasa.

Di balik semua retorika tentang keadilan dan kesetaraan, ternyata ada tangan-tangan kotor yang bermain, memanipulasi, dan membusukkan sistem yang seharusnya menjadi milik kita semua.

Aku merasa dikhianati. Suara yang ku berikan dengan penuh harapan, kini hanya terasa seperti angin lalu, tak ada arti di hadapan kekuatan uang dan kepentingan elit.

Betapa menyesakkan mengetahui bahwa demokrasi yang ku yakini telah diacak-acak, tak lagi murni, tak lagi bersih. Bagaimana bisa aku mempercayai sistem yang telah berubah menjadi ladang permainan bagi mereka yang tamak?

Suara rakyat adalah suara Tuhan yang selama ini digaungkan, kini tak lebih sebuah manipulasi untuk menipu aku dan kamu , rakyat Jakarta. Elit politik menjadi iblis demokrasi yang merampas dan memanipulasi suara rakyat.

Partai yang seharusnya menangkap aspirasi rakyat, kini mulai angkuh dan sombong memaksakan kepentingannya untuk disetujui rakyat. Masihkah mereka bisa dipercaya ? apa yang seharusnya dilakukan oleh rakyat untuk menghukum mereka ?

Namun, di balik semua kekecewaan ini, ada sesuatu yang bergejolak dalam diriku—keinginan untuk melawan, untuk tidak diam saja. Aku tahu, aku bukanlah satu-satunya yang merasakan sakit ini.

Di luar sana, banyak lagi yang merasakan hal yang sama, yang juga merasa suaranya diabaikan, haknya dicuri. Kami adalah korban dari pembusukan politik ini, tapi kami tak akan tinggal diam.

Aku ingin berteriak, ingin dunia tahu bahwa kami tidak akan membiarkan ini terus terjadi. Bumbung kosong adalah simbol perlawanan kami, sebuah tanda bahwa kami tidak akan lagi tunduk pada sistem yang korup.

Ini adalah caraku, cara kami, menunjukkan bahwa kami masih memiliki kekuatan, bahwa kami tidak akan menyerah pada ketidakadilan ini.

Halaman:

Tags

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB