opini

Dari Alamat Palsu hingga Habib Palsu

Sabtu, 8 Juni 2024 | 10:00 WIB
Ilustrasi habib dalam memuliakan anak (Youtube Paramex)

 

Oleh: Ali Masrur


Fenomena habib palsu yang belakangan ramai dibicarakan orang sebenarnya menunjukkan fenomena merebaknya kepalsuan yang ada di tengah masyarakat. Tentunya kita tidak lupa dengan fenomena- fenomena kepalsuan sebelumnya, seperti fenomena Nabi palsu, makam palsu dan masih banyak lagi kepalsuan yang muncul di tengah masyarakat kita.

Jauh sebelum itu, fenomena hadis palsu juga pernah muncul setelah umat Islam mengalami pergolakan politik di masa awal Islam. Karena itu, diperlukan sebuah alat, cara atau metode untuk menyaring semua kepalsuan itu. Karena itu, Imam Bukhari telah bersusah payah menyaring dan menyeleksi ratusan ribu hadis untuk dicari dan dihimpun hadis-hadis yang paling shahih dari Rasulullah Saw.

Fenomena habib palsu bagi orang yang pernah mengkaji sejarah pemalsuan hadis tentu tidak mengherankan. Karena setiap yang asli selalu dibarengi dengan yang palsu. Jika ada alamat asli, tentu juga ada alamat palsu. Jika ada kaset asli tentunya juga ada kaset palsu. Jika ada cinta asli tentunya juga ada cinta yang palsu. Maka jika ada habib asli tentunya tidak heran jika kemudian muncul habib habib palsu. Sebenarnya hal ini merupakan fenomena yang natural yang seringkali terjadi di tengah masyarakat.

Motif pemalsuan itu bisa bermacam-macam. Baik untuk kepentingan akhirat hingga kepentingan duniawi. Sekaligus hal ini mencerminkan bahwa untuk mencapai tujuannya manusia seringkali membuat kreasi kreasi berupa pemalsuan agar cita cita dan keinginannya dapat tercapai secepat kilat.

Sejak zaman Islam awal sudah ada nabi-nabi palsu dan bahkan ada yang berpendapat, sudah ada hadis palsu. Artinya, fenomena keoalsuan dan pemalsuan telah dilakukan sejak dulu demi mencapai tujuan dengan cepat tanpa menunggu waktu lama.

Oleh karena itu, para ilmuwan Islam sudah merumuskan berbagai cara dan metode untuk menyeleksi berbagai kepalsuan dan pemalsuan itu. Jika para ulama sudah memahami adanya kritik terhadap berbagai penyimpangan di dalam tafsir dan di dalam meriwayatkan hadis. Sebaliknya orang awam belum mengetahuinya.

Oleh karena itu, wajar bahwa akan terjadi polarisasi pendapat tentang habib, orang-orang yang mengaku keturunan Rasulullah Muhammad Saw. Karena sebagian besar orang awam tidak atau belum mengetahui alat atau cara untuk menyeleksi mana nasab yang asli dan mana nasab yang palsu.

Agama sebagai teks dan doktrin juga sebagai fenomena sosial sudah lama menjadi obyek riset di negeri kita. Hanya saja, wilayah agama ini tampaknya lebih sensitif daripada wilayah sosial lainnya. Ketika ada hasil riset baru menyatakan bahwa jalur nasab Ba'lawi ternyata terputus dan tidak bersambung karena telah terbukti bahwa Ubaidillah itu bukan anak dari Imam Ahnad Muhajir, maka temuan itu tiba tiba viral dan mengejutkan banyak pihak.

Sebagai sebuah temuan ilmiah, hasil riset ini dapat dipegangi selama belum ada bukti baru yang dapat menolaknya atau merevisinya. Boleh saja seseorang mengaku dirinya keturunan Nabi Muhammad Saw., tetapi ia harus siap memberikan bukti-bukti bahwa ia betul betul keturunan Rasulullah Saw. Jika tidak, tentu hal itu merupakan kebohongan publik yang tidak kecil dosanya. Seperti dalam Al-Quran Surat Al Baqarah, ayat 111, dinyatakan, "Katakan (Wahai Muhamnad), datangkan bukti-bukti kalian, jika kalian termasuk orang orang yang benar (jujur)."

Tags

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB