Oleh: Neng Marlina Efendi
Untuk sampai pada perjalanan yang disebut dengan kata menikah, berbagai pemikiran telah banyak kami diskusikan. Salah satu yang membuat saya yakin pada saat itu adalah tentang hidup setelah menikah.
Di antara banyak lelaki yang mendekati untuk niat menikah, saya selalu bertanya. Ketika saya menikah denganmu, apakah kamu akan tetap masih mencintaiku ketika aku bahkan tak menjadi apa-apa?
Hampir semua menjawab, tenang saja. Kamu akan aku hidupi, kamu akan aku biayai, kamu tinggal di rumah saja sebagai istri. Aku yang mencari nafkah, kamu boleh meminta apapun.
Kecuali lelaki ini, dia mengatakan aku akan membantumu menjadi versi terbaikmu. Aku akan mendorongmu untuk tetap menjalani kehidupan dengan cita-citamu, passionmu. Kukira ini lebih dari makna mencintai.
Ketika menikah, kemelekatan perempuan pada pria lebih tinggi karena standarisasi sosial atas dasar kerangka budaya patriarki yang banyak timpang pada perempuan.
Terutama persoalan ekonomi. Meskipun banyak penelitian mengatakan bahwa resieliensi perempuan terhadap permasalahan ekonomi lebih tinggi daripada laki-laki.
Tetapi, persoalan ekonomi setelah menikah menjadi kemelekatan bagi perempuan karena menganggap ada kata perempuan dibiayai dsbnya.
Ketika relasinya tak adil, maka yg dirugikan adalah perempuan. Maka tidak heran, dalam banyak riset perempuan bertahan pada pernikahan yg tidak sehat karena alasan kemelakatan pada laki-laki.
Mau menikah atau tidak, perempuan tetap menjadi manusia yang sama dengan laki-laki.