opini

Adab vs Ilmu

Sabtu, 18 Mei 2024 | 06:09 WIB
Ilustrasi. Ilmu Administrasi dan Keuangan (freepik/ pressfoto)

Saya tidak bermaksud membahas tentang musik kali ini. Biarlah itu jadi obyek perdebatan di kalangan ulama dan para ahli yang lebih mumpuni dan kredibel. Salah satunya yang saya kenal saat ini adalah Ustadz Adi Hidayat. Saya mengkategorikan beliau sebagai guru. Walau mungkin secara umur lebih mudah dari saya sendiri.

Justeru yang ingin saya ingatkan adalah pentingnya adab atau etika dalam berinteraksi dengan ilmu-ilmu keislaman. Bahkan ada ungkapan yang mengatakan: adab itu harus hadir sebelum ilmu”. Di antara adab-adab keilmuan yang terpenting adalah “tawadhu’” (rendah hati). Termasuk di dalamnya tidak merasa lebih tahu dari orang lain. Sebab jika itu terjadi berarti telah terjadi pelanggaran keilmuan dan keislaman yang nyata dengan “kibriya” (keangkuhan).

Apalagi perasaan lebih tahu itu kemudian terpakai untuk menyalahkan pandangan orang lain. Saya katakan pandangan atau pendapat karena menterjemahkan kata “syu’ara” dengan musik tidak menambah dan mengurangi kata itu. Hanya mengungkapkan pendapat tentang makna atau artinya. Dan selama itu opini atau pendapat maka pastinya akan tetap dihargai salah sekalipun. Bukankah berijtihad dan salah masih tetap diganjar satu pahala?

Yang lebih runyam lagi adalah ketika apa yang dianggap kesalahan Saudara itu dikaitkan dengan suatu tuduhan yang besar (buhtaan adzim). Tuduhan kepada Ustadz Adi Hidayat sebagai “menghina Al-Quran” jelas dimaknai sebagai “kekufuran”. Dan ini sangat serius. Mengkafirkan seseorang yang beriman, bahkan benar kesalahannya sekalipun, tidak dibenarkan (haram). Lebih bahaya lagi tuduhan kufr itu tidak benar, maka yang terjatuh dalam kekafiran adalah sang penuduh.

Saya hanya ingin mengingatkan kita semua agar lebih berhati-hati dalam mendengar, memahami, apalagi menyimpulkan pendapat orang lain. Bahkan ketika kesimpulan kita cenderung melihatnya sebagai hal yang “salah”, tutupi itu dengan “husnuz dzhonn” (perkiraan positif). Dia salah menurut saya. Tapi boleh jadi benar karena pemahaman saya tentang dia dan opininya juga sifatnya manusiawi. Bisa salah dan bisa benar. Maka pada akhirnya biarlah Allah yang menghakimi: “bukankah Allah adalah sebaik-baik Yang Menghakimi”.

Lebih dari itu kita sudah muak dengan perpecahan yang seringkali disebabkan oleh hal-hal yang tidak mendasar. Anggaplah Ustadz Adi Hidayat bersalah dalam hal ini. Tidakkah jauh lebih banyak hal yang bisa kita jadikan sebagai “common ground” (pijakan bersama) dari berbagai pendapat beliau tentang agama ini. Bahkan tidakkah lebih layak diapresiasi dan dihargai ketimbang menyalahkan apalagi mengkafirkan?

Mari dewasa dalam perbedaan. Ukhuwah dan persatuan kita adalah mutiara yang hilang dari umat saat ini. Temukan kembali. Semoga!

New York City, 17 Mei 2024

Halaman:

Tags

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB