Ketika Islam dipropagandakan sebagai “inspirasi dan ajaran terorisme” tuduhan itu justeru berbalik menjadi sumber cahaya kehidupan bagi banyak warga Amerika dan dunia Barat.
Dengan tereksposnya Islam, walaupun untuk tujuan jahat, justeru menjadikan warga Amerika semakin “curious” (penasaran dan ingjn tahu) tentang hakikatnya.
Salah satu karakter orang Amerika yang positif adalah kuriositas (keingin tahuan) yang tinggi dan spirit of searching (semangat mencari). Mereka kemudian mencari kebenaran dari berbagai tuduhan jahat kepada agama ini.
Dalam proses pencaruan itulah mereka tak bisa lagi menghindar. Cahaya itu begitu terang benderang meneràngi hati nurani manusia untuk kembali menghidupkan fitrahnya.
Maka bangsa Amerika ketika itu berbondong-bondong mempelajari dan bahkan menerima agama ini sebagai jalan hidupnya.
Konon kabarnya ketika itu persentasi warga Barat yang menerima Islam sebagaj jalan hidupnya meningkat hingga 400%. Peningkatan yang sangat signifikan itu berusaha diredam atau diremehkan (undermined) dengan mengecilkan estimasi jumlah warga umat Islam di Amerika.
Terkadang bahkan dikecilkan hingga hanya sekitar tiga juta orang. Padahal sebelum terjadi 9/11 jumlah umat Islam di Amerika sudah diperkirakan antara 5-7 juta orang. Aneh tapi itulah kenyataannya.
Yang ingjn saya garis bawahi kali ini adalah bahwa apa yang dulu terjadi dengan peristiwa 9/11 kini kembali terjadi dengan keadaan yang berbeda.
Dalam beberapa hari terakhir ini banyak disebutkan bahwa jumlah warga di Barat dan berbagai belahan dunia, khususnya Amerika dan Eropa termasuk Jelang dan Korea, mengalami peningkatan signifikan hingga 400%.
Dan lebih mengejutkan lagi magoritas mereka yang menerima Islam itu adalah anak-anak muda, terdidik, professional, dan native born (penduduk asli kelahiran negara itu).
Dan yang terpenting dari semua itu ternyata warga Amerika dan Eropa yang menerima Islam terinspirasi oleh ketangguhan (soliditas) iman dan kekuatan mental serta kesabaran warga Gaza.
Mereka terinspirasi jika iman (faith) merupakan fondasi kuat kehidupan yang menjadikan manusia “stabil dan tegar menghadapi rintangan kehidupan yang tidak jarang di luar nalar manusia biasa.
Jika saja kita ikuti media sosial (Facebook. Instagram, TikTok, dan lain-lain), maka dengan mudah kita menemukan dokumentasi “konversi atau reversi” warga di berbagai belahan dunia khususnya di Barat itu. Berbagai foto dan video menampilkan gelombang anak-anak muda dan warga menerima Islam sebagai jalan hidup mereka.
Karenanya tidak berlebihan jika saya menyebut Tragedi Gaza, dengan segala perih dan kesedihan yang ada, sebagai salah satu cara Allah untuk membukakan pintu-pintu hidayah bagi hamba-hambaNya.
Dan karenanya pula perkenankan kita semua menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada warga Gaza atas ketauladanan mereka di jalan dakwah.