Keempat, catatan yang juga tidak kalah pentingnya adalah bahwa tragedi Gaza telah menampakkan kebenaran secara nyata dan kebatilan juga semakin nyata. Realisasi “Liyuhiqqal haqqa wa yubthilul bathila” semakin nyata.
Manusia yang berkarakter double standard dan munafik semakin menampakkan diri. Mereka yang memang lurus dan jujur dalam kemanusiaan dan nilai-nilai kehidupan juga semakin jelas.
Salah satunya adalah eksposure dunia Barat, termasuk Amerika, yang selalu menampilkan diri sebagai “pahlawan kebebasan, demokrasi dan keadilan”, dengan tragedi Gaza semua itu semakin nyata sebagai kemunafikan yang memalukan (shameful).
Tapi tidak kalah pentingnya justeru beberapa negara mayoritas Muslim yang nampak tidak peduli, bahkan cenderung membela pihak kezholiman.
Saya terkejut dan malu ketika saya Umrah baru-baru ini ternyata McDonald dan Starbucks masih saja ramai justeru di pelataran masjidil Haram dan masjid Nabawi. Sebagian yang lain memiliki mental kerdil. Mereka menjadi ketakutan untuk terbuka membela Palestina.
Tidak tanggung-tanggung sebagian tokoh-tokoh agama dalam ceramah-ceramah dan tulisan mereka sekalipun khawatir membela Palestina sacara terbuka.
Yang juga mamalukan, justeru di saat mahasiswa-mahasiswa di kampus ternama di Barat bangkit, dunia Islam nampaknya membisu dan tuli.
Tragedi Gaza dan Dakwah Islam
Catatan kelima yang ingjn saya sampaikan juga bahwa Allah seringkali melakukan hal-hal dalam kehidupan ini di luar batas nalar manusia.
Salah satunya Allah biasa membuka pintu-pintu “nushroh” (pertolongan bagi agamaNya dengan cara yang tidak disangka-sangka. Bahkan tidak jarang pertolongan itu justeru datang dari arah yang berseberangan dengan logika biasa manusia.
Pengalaman saya yang singkat di Amerika mengajarkan itu dengan sangat jelas dan terbuka. Justeru seringkali keadaan-keadaan tertentu yang kita anggap menjadi tekanan bagi Islam dan pemeluknya justeru berbalik menjadi jalan kemudahan bagi agama dan umat. Di saat ternampakkan agama dan pemeluknya tersudutkan justeru di situlah Allah bukakan jalan-jalan kemudahanNya.
Peristiwa Nine Eleven (9/11) atau apa yang dipopulerkan sebagai serangan “teror” ke Amerika khususnya New York City dan Pentagon di tahun 2001 lalu adalah salah satu peristiwa yang dianggap atau bahkan (dicurigai) dirancang (designed) untuk menghancurkan reputasi Islam.
Peristiwa yang menggoncang dan merubah wajah hubungan internasional itu menjadikan Islam oleh sebagian kalangan dianggap telah selesai. Peristiwa 9/11 itu adalah kuburan bagi Islam yang dianggap telah menemukan kematiannya.
Tapi sebagai saksi mata dan salah seorang pelaku sejarah itu saya disadarkan bahwa “mereka berencana, dan Allah berencana. Dan Allah adalah sebaik-baik Perencana” (Al-Quran).
Rencana jahat mereka untuk membungkam dan menghentikan langkah Islam dengan peristiwa 9/11 itu justeru berbalik menjadi pembuka cahaya Islam yang menerangi nurani banyak warga Amerika.