Oleh: Agung Wibawanto
Arya Bima, kader senior PDIP yang biasanya bicara pelan dan santun, tampak keras mengeluarkan statemennya kali ini. Ia bicara soal anomali suara Ganjar yang jauh di bawah kandidat lainnya. Ia mencontohkan bagaimana saat di lapangan setiap kampanye akbar Ganjar-Mahfud selalu penuh massa pendukung. Bung Arya menambahkan bahwa selain mesin PDIP juga ada PPP, Hanura dan Perindo.
"Belum lagi pendukung tokoh-tokoh selain mas Ganjar dan pak Mahfud MD, seperti ibu Atikoh, Yenny Wahid, dan banyak lagi lainnya. Ini anomali. Saya bisa gagal dilantik sebagai anggota legislatif terpilih, jika tidak bisa menjawab hal ini!" Arya menduga ada dua hal setidaknya sebagai penyebab: Pertama, ada kekuatan luar biasa besar yang 'menculik' pendukung GAMA dengan iming-iming tertentu. Arya sampai kesal.
"Buat apa kita capek-capek menggelar proses pemilu? Buat apa bikin jadual kampanye ke sana-sini, jika hasilnya begini? Sekalian saja ditetapkan pemenangnya tanpa perlu kampanye?" Tanya Arya. Sekali lagi ia merasa aneh, sementara ada satu paslon yang perolehan suaranya diluar dugaan semua orang. Menurutnya lagi, jika pemilu fair, maka setidaknya terjadi dua putaran.
Mengingat ada tiga kandidat yang posisinya bisa dikatakan sama kuat, tidak ada yang terlalu menonjol. Penyebab kedua, diduga adanya kader-kader PDIP sendiri yang juga sudah dibajak suaranya serta pendukungnya. Hal ini dikarenakan suara Ganjar juga berada di bawah suara partai (PDIP diprediksi menang pileg meski mengalami penurunan). PDIP memperoleh 18% suara, sementara GAMA hanya 16%!
Internal PDIP pun dikabarkan heboh. Instruksi Ketua Umum, Megawati, tegas, tidak akan melantik caleg terpilih PDIP jika kedapatan tidak loyal kepada partai terkait pilihan pilpres. PDIP segera melakukan evaluasi dan mencari siapa 'brutus-brutus' yang menjadi penghianat di tubuh PDIP. Soal kader yang 'didekati' pihak lawan, sebenarnya bukan derita baru. Rudy FX pernah ungkapkan dirinya pernah juga 'dirayu'.
Tapi, Rudy mengaku dirayu ditarik ke istana sebagai menteri, tapi harus mau meninggalkan dari PDIP. Rudy juga merasa yakin ada gerakan penggembosan baik suara GAMA maupun PDIP, tapi ia melihat lebih banyak suara GAMA yang dibeli. Menurut Rudy, sebenarnya tidak harus kader PDIP yang dibajak agar pendukungnya tidak memilih GAMA, tapi bisa ke rakyat pemilih langsung.
Dalam pandangan penulis pun demikian. Ada dua cara yang dilakukan lawan, terutama 02, yang diketahui 'menyerobot' suara arus bawah (grass root) PDIP. Pertama, melalui peran presiden dan para menteri yang datang ke rakyat lalu bagi-bagi sembako. Itu dilakukan di wilayah kandangnya banteng di Jateng dan Jatim juga Bali serta DIY. Pembagian sembako dengan lebel Jokowi yang mendukung Prabowo.
Ini dilakukan masif dan terang-terangan, seperti yang dilakukan Jokowi dengan spanduk 02 saat membagikan. Zulhas menyatakan sembako dari Jokowi dan mendukung Gibran yang anaknya Jokowi. Lalu juga Airlangga yang mengatakan rakyat terima kasih kepada Jokowi. Jokowi sudah menjadi nota bene mendukung Pragib. Di satu sisi PDIP tidak kuasa mengantisipasi pembagian sembako.
Terlebih dengan cara kedua yang dilakukan tim dari kubu 02 yang dilakukan mendekati pencoblosan. Mereka mengaku bergerak senyap tapi masif datang ke rakyat kalangan bawah dengan mengaku sebagai kader PDIP (karena mereka tahu yang mereka datangi adalah pemilih di wilayah basis PDIP). Jika dikatakan, misal, dari Gerindra, maka rakyat tidak percaya dan akan tetap setia pada PDIP.
Kelompok 02 tersebut mengaku kader PDIP tapi mendukung Jokowi dan Prabowo (ada videonya viral tentang rencana 02 lakukan aksi senyap). Namun begitu, kader PDIP terutama yang menjadi caleg di wilayah tersebut harusnya mendapat laporan jika memang dia menguasai pemilih di dapilnya tersebut. Kader harusnya sigap mendatangi warga guna mengklarifikasi bahwa itu aksi ilegal dari kubu lawan.
Caleg dan kader yang terbukti membiarkan hal itu terjadi akan mendapat sanksi keras dari partai berupa tindakan indisipliner, seperti: tidak dilantik jika caleg terpilih, atau tidak boleh mengikuti kegiatan kepartaian beberapa waktu bagi kader. Dan bagi pengurus bisa dinon-aktifkan sementara. Dikabarkan, Megawati sangat marah atas sikap abai lalai caleg, pengurus dan kadernya yang tidak mengantisipasi serangan tersebut.
Selain itu (evaluasi internal), Megawati juga sudah menyetujui usul Ganjar Pranowo untuk mengangkat masalah pelanggaran pemilu ke DPR melalui hak angket. Tugas ini diserahkan kepada kader PDIP yang menjadi anggota dewan agar mengusulkan hak angket. Sementara Tim Hukum TPN GAMA sendiri akan mempersiapkan pengajuan gugatan perkara sengketa pemilu ke MK. Mulai, lakukanlah bersih-bersih kadermu PDIP!