opini

Perkembangan Islam di Indonesia: Penyebaran, Alkuturasi, dan Perubahan Sosial

Senin, 22 Januari 2024 | 11:16 WIB

Setiap perubahan budaya memicu konflik, seperti halnya akulturasi budaya. Terakhir, krisis terjadi ketika terjadi perubahan budaya. Proses akulturasi dapat menimbulkan kegelisahan karena individu atau masyarakat telah kehilangan budaya lamanya namun belum sepenuhnya menganut budaya barunya. Meskipun pedoman baru ini tidak stabil, cara hidup lama sedang ditantang. Situasi krisis ini membantu untuk keluar dari suatu masalah, seperti penggunaan dunia supranatural atau agama. Krisis berakhir ketika sebagian kebudayaan asing disesuaikan dengan kebudayaan asli. Menurut Khadziq (2009), krisis kepercayaan dapat terjadi pada saat terjadi penyebaran agama baru atau keyakinan baru. Krisis ini hanya akan berakhir jika agama baru tersebut diterima atau ditolak sama sekali.

Perubahan tradisi masyarakat dapat dilihat dari sudut pandang perubahan budaya. Perubahan sosial melibatkan perubahan struktur sosial dan hubungan sosial, sedangkan perubahan budaya melibatkan perubahan budaya material. Dengan demikian, perubahan sosial mencakup aspek immateriil, sedangkan perubahan budaya mencakup aspek materil. Perbedaan-perbedaan tersebut sesungguhnya tidak dapat dipisahkan. Mereka yang berpendapat bahwa faktor budaya memegang peranan penting dalam menentukan perubahan sosial berpendapat bahwa terdapat hubungan erat antara sistem budaya yang terdiri dari berbagai nilai, kepercayaan, norma, aturan dan adat istiadat, serta interaksi manusia. Oleh karena itu, pandangan yang ada adalah bahwa sistem kebudayaan berperan sebagai pedoman, pedoman, dan pengontrol seluruh sikap, tingkah laku, dan aktivitas sosial anggota masyarakat dalam pengaturan berbagai pranata sosial.

Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam proses akulturasi tersebut di atas, keimanan Islam dan adat istiadat setempat dipraktikkan secara alami dan terus menerus. Islam bukan hanya agama yang unik, tetapi juga kebudayaan manusia dalam paradigma Islam. Sebagaimana dinyatakan sebelumnya, setiap penumpukan atau perubahan kebiasaan memerlukan pengurangan ketegangan agar krisis benar-benar terjadi. Proses akulturasi dapat menimbulkan krisis karena masyarakat atau komunitas telah kehilangan sistem kepercayaan lamanya namun belum mencapai pemahaman menyeluruh tentang sistem kepercayaan baru yang valid. Arahan baru tidak sesering arah kehidupan lama dan sebaliknya. Situasi krisis saat ini mendorong upaya untuk membantu masyarakat keluar dari krisis tersebut, termasuk melalui dunia supranatural atau agama. Pada fase ketiga krisis ini, kekuatan budaya asing dan dalam negeri berbeda satu sama lain.

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB