Oleh : Norma Purwanti
Islam masuk dengan damai ke Tatar Sunda, memberikan nilai spiritual kepada masyarakat Sunda yang hanif yang menyembah hanya satu tuhan (monoteisme) (Raffles, 2015, p. 447). Tidak ada nyawa atau korban jiwa yang melayang; dia diterima dengan sukacita. Semuanya berjalan sesuai dengan rencana Tuhan, dan pada akhirnya muncul istilah dimasyarakat bahwa Islam itu Sunda dan Sunda itu Islam.
Kisah rakyat Cianjur mengatakan bahwa Ariya Wangsa Goparona berasal dari Talaga, tetapi kemudian pindah ke Segalaherang (Subang). Dia pindah ke Cianjur bersama putranya, yang kemudian menjabat sebagai bupati Cianjur dan Limbangan. Sebuah catatan dari Cianjur tahun 1855 mencatat bahwa Aria Wangsa Goparona memiliki anak bernama Aria Wiranatudatar I. Aria Wiranatudatar II mengambil alih pemerintahan di Cianjur lama (Ciranjang).
Baca Juga: Menghadapi Gelontoran Sembako dan Serangan Fajar
Oleh karena itu, perkembangan Islam di Cianjur dipengaruhi oleh Talaga dan Cirebon. Karena Aria Wangsa Goparona adalah penganut Islam, mungkin dia yang membawa Islam ke Segalaherang (Subang), dan mungkin puteranya Aria Wiranatudatar yang membawa Islam ke Cianjur pada sekitar abad ke-16 dan 17 Masehi.
Utusan dari Cirebon, dipimpin oleh Pangeran Muhammad dan Siti Armila, mengislamkan wilayah ini, menurut cerita rakyat Sindangkasih (Majalengka). Nyai Rambut Kasih, Ratu Sindang Kasih, menolak rakyatnya untuk menjadi Muslim, tetapi dia memberikan mereka kebebasan.
Menurut Carita Purwaka Caruban Nagari, Walangsungsang menyebarkan Islam di daerah Priangan Selatan saat dia meninggal. Kian Santang adalah putra Prabu Siliwangi, raja Padjajaran, menurut tradisi sumber di Garut. Ia berselisih dengan ayahnya, tetapi akhirnya mereka setuju bahwa Kian Santang boleh menyebarkan Islam di seluruh kerajaan Sunda.
Menurut Carita Purwaka Caruban Nagari, Kuningan, Sindangkasih, Talaga, Luragung, Ukur, Indralaya, Bantar, dan Imbanganten adalah beberapa wilayah di Tatar Sunda yang diislamkan oleh Sunan Gunung Djati selain Cirebon. Pada masa Sunan Gunung Djati, Cirebon mengislamkan Galuh dan Sumedang, serta Luragung pada tahun 1481. Pada tahun 1530, Cirebon juga mengislamkan Kuningan, Talaga, Galuh, dan wilayah sekitarnya (Nina Herlina Lubis, 2011, p. 17).
Baca Juga: Kearifan Lokal Masyarakat Islam di Wilayah Sunda Jawa Barat (Bagian 1)
Menurut sumber tradisi dari Ciamis, pangeran Mahadikusumah, juga dikenal sebagai ulama yang sangat dihormati di Cirebon, membawa Islam ke wilayah Galuh (Ciamis). Pulau danau Panjalu (Ciamis) memiliki ampak batu yang mungkin merupakan bekas masjid. Islam datang ke Sumedang melalui perkawinan. Pangeran Santri, penguasa Islam pertama Sumedang. Pangeran Santri adalah keturunan raja Padjajaran dari pihak ibu dan Sunan Gunung Djati dari pihak ayah (Wanta, 1991, p. 45).
Saat pangeran Hassanudin menjabat sebagai bupati Banten dari tahun 1526 hingga 1552 dan sebagai sultan Banten dari tahun 1552 hingga 1570, Islam mulai menyebar ke wilayah pedalaman Banten (Banten Selatan). Putra Pangeran Hassanudin, Maulana Yusuf, yang menggantikan ayahnya dari tahun 1570 hingga 1580, melanjutkan upaya pangeran Hassanudin untuk menyebarkan Islam di Pedalaman Banten.
Baca Juga: Direktori Penulis Indonesia 2023 Telah Diterbitkan Oleh Satupena
Sejak tahun 1527, ibu kota kerajaan Sunda ditempatkan di pedalaman dan jauh dari kota-kota pelabuhan yang sudah diislamkan. Namun, setelah pelabuhan-pelabuhannya diislamkan, kerajaan Sunda dapat mempertahankan ibukotanya selama lebih dari lima puluh tahun. Baru pada tahun 1579 tentara Banten dapat mengambil alih ibu kota kerajaan Sunda (Suryanegara, 1995, p. 67).
Stimulannya adalah awal masuknya Islam ke wilayah Priangan dari Cirebon, sedangkan masuknya Islam ke wilayah Banten Selatan, Bogor, dan Sukabumi berasal dari Banten, menurut Nina Herlina Lubis (2011). Oleh karena itu, Jawa Barat (Tatar Sunda) dibagi menjadi dua bagian. Bagian Barat memiliki pusat di Banten Selatan, Jakarta, Bogor, dan Sukabumi. Bagian Timur memiliki pusat di Cirebon. Islam menyebar di daerah seperti Kuningan, Majalengka, Indramayu, Subang, Cianjur, Bandung, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis (p. 21).***