opini

Kearifan Lokal Masyarakat Islam di Wilayah Sunda Jawa Barat (Bagian 1)

Kamis, 11 Januari 2024 | 19:51 WIB
Norma Purwanti mahasiswi STAI AL-Azhary Cianjur (Abdul Qodir Majid)

 

Oleh : Norma Purwanti

Di zaman modern, budaya antar negara berkembang dengan cepat. Di satu sisi, itu sangat mengkhawatirkan, tetapi di sisi lain, itu sangat menyenangkan. Dikhawatirkan bahwa perubahan budaya yang melintasi batas nasional akan mengubah identitas lokal yang sudah mapan, menggantikan budaya yang lebih radikal dan tidak kompromi. Menggembirakannya adalah budaya lokal yang dapat bertahan dari badai yang sangat kuat.

Baca Juga: Direktori Penulis Indonesia 2023 Telah Diterbitkan Oleh Satupena

Budaya ini akan menjadi model dan contoh bagi negara lain untuk belajar dari budaya kita. Tulisan Ini akan menjelaskan bagaimana budaya lokal di Tatar Sunda (Jawa Barat) dapat berakulturasi dengan agama Islam, yang dianut oleh masyarakat Sunda sebagai agama mayoritas.

Ini memungkinkan agama Islam diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, dengan komitmen kuat bahwa Islam adalah agama Sunda dan Sunda adalah bagian dari Islam. Studi deskriptif ini menggunakan metodologi kualitatif.

Metode ini digunakan untuk membuat suatu fenomena yang terjadi di masyarakat Tatar Sunda (Jawa Barat) mudah dijelaskan dengan menggunakan tahap heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi dalam penelitian budaya.

Baca Juga: Jaminan Netralitas TNI AD Dari KSAD, Jendral Maruli Simanjuntak M.Sc Untuk Pemilu 2024

 

Menurut Hurgronje (1931), Islam masuk ke Tatar Sunda karena masyarakatnya memiliki kepercayaan turun-temurun. Kepercayaan ini berasal dari kepercayaan lokal, yang merupakan akulturasi budaya Hindu-Budha dengan agama Islam, dan menjadi pedoman moral untuk setiap aspek kehidupan masyarakat Sunda.

Sunan Gunung Djati, pendiri kesultanan Cirebon dan salah satu Wali Sanga, melanjutkan penyebaran Islam di Tatar Sunda dengan bantuan para kyai atau ajengan. Kiyai adalah gelar ahli agama Islam dan pemimpin kharismatik yang menyebarkan Islam dengan meneruskan ajaran Sunan Gunung Djati. Jadi, tradisi Hindu-Budha yang ada menambah kekayaan budaya Tatar Sunda (Nina Herlina Lubis, 2011, hlm, P.9).

Sudah menjadi kebiasaan bahwa setiap kyai yang mengajarkan agamanya kepada para santri harus tetap tinggal di lembaga pendidikan pesantren. Pesantren adalah institusi pendidikan Islam yang sangat tua di Indonesia, terutama di Pulau Jawa, di mana sistem pendidikannya didasarkan pada agama Hindu India. Tradisi Islam Tatar Sunda mengalami pergeseran baru dalam bidang politik, sosial, budaya, dan hukum karena peran penting kyai tersebut.

Budaya Sunda di Tatar Sunda mengalami perubahan antara hukum Islam dan hukum adat ketika hukum Islam masuk, yang menghasilkan kreatifitas baru di dunia Islam. Sebagai figur penting, para kyai telah berkontribusi besar dalam mewujudkan keseimbangan antara Islam dan budaya Pasundan (Ekajati, 1984, p. 142).

Keberadaan pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan tradisional di Tatar Sunda, tidaklah dipandang sebelah mata. Karena dengan lembaga-lembaga inilah setiap budaya Tatar Sunda akan tetap dilestarikan oleh para santri-santrinya ketika lulus dari lembaga tersebut. Implikasinya bagi masyarakat yang kedatangan para santri yang sudah di gembleng pendidikan agama tersebut dalam kehidupan sehari-harinya akan mengikuti pola kehidupan masyarakat yang pada akhirnya antara ajaran Islam yang didapatkan sewaktu menuntut ilmu akan bercampur-baur dengan budaya- budaya masyarakat setempat.

Dengan demikian, Tatar Sunda secara khusus menjadi unik karena budayanya dipengaruhi oleh ajaran Islam, yang memperkuat hubungannya dengan Islam. Sebagian orang di Tatar Sunda berpendapat bahwa Masyarakat Sunda adalah Masyarakat Islam dan Agama Islam adalah agama masyarakat Sunda. Akibatnya, Tatar Sunda adalah salah satu basis Islam yang kuat di Pulau Jawa. (Noer, 2000, p. 87).

Halaman:

Tags

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB