Oleh: Imam Shamsi Ali
Sebenarnya saya ingin menuliskan tentang debat ini dari kemarin. Tapi sejujurnya saya agak bingung memulai dari mana dan akan fokus di aspek mana.
Saya melihat debat ini sangat berkwalitas karena sudah mulai nampak tujuan utamanya. Yaitu menggali lebih dalam ide dan gagasan, skill komunikasi, sekaligus stabilitas dan kontrol emosi serta karakter pribadi para capres.
Saya yakin masyarakat luas, baik melalui media mainstream maupun media sosial dan lainnya telah dapat menilai dan mengambil kesimpulan tentang para capres.
Siapa di antara ketiga capres ini yang memang punya ide dan gagasan, menguasai masalah, mampu mengkomunikasikan ide dan tidak kalah pentingnya mampu melakukan kontrol emosi serta menampilkan karakter yang tetap simpati, bahkan di keadaan yang mungkin terasa menekan.
Kali ini saya akan menggaris bawahi beberapa poin dari isu hubungan luar negeri (foreign policy) yang diperdebatan. Saya merasa hal ini penting karena sekali lagi dengan kebesaran dan segala potensi yang dimilikinya, Indonesia belum terlalu mendapat tempat yang layak di dunia internasional.
Bahkan kehadiran Indonesia di beberapa forum internasional terasa seolah sekedar pelengkap saja. Belum mewarnai arah perjalanan dunia global, sebagaimana misalnya peranan Soekarno dalam mewujudkan gerakan Non Blok. Atau peranan Soeharto dalam organisasi ASEAN dan OKI.
Dalam penyampaiannya Anies menekankan beberapa hal:
Satu, bahwa Presiden harus menjadi Panglima diplomasi RI. Hal ini pastinya dimaksudkan bahwa seorang Presiden harus paham tentang percaturan dunia global, memiliki ide penyelesaian terhadap berbagai masalah dunia, bahkan lebih jauh punya wawasan untuk disumbangkan bagi terwujudnya dunia yang lebih baik. Sebagai Panglima juga tentunya Presiden harus memilki kapasitas komunikasi yang handal untuk menyampaikan ide dan posisi Indonesia ke dunia global.
Dua, bahwa Indonesia harus pro aktif untuk mengenalkan dan menghadirkan ragam kekuatan yang dimilikinya ke seluruh penjuru dunia. Dua di antara banyak hal yang Anies sampaikan adalah urgensi keterlibatan negara dalam promosi budaya dan kulinari.
Anies menyebutkan program pengadaan rumah-rumah budaya dan restoran-restoran Indonesia di berbagai kota besar dunia. Saya melihat ini akan menjadi dobrakan besar bagi diplomasi budaya dan kuliner Indonesia ke depan.
Karena sejujurnya baik promosi budaya maupun kulinari selama ini belum mendapat perhatian penuh dan sungguh-sungguh dari pemerintah. Akibatnya hampir saja tidak ada restoran Indonesia yang dapat dibanggakan di kota-kota besar, termasuk di kota New York.
Tiga, bahwa diaspora suatu negara itu memilki peranan multi yang besar. Diapsora atau masyarakat Indonesia di luar negeri, tidak saja memberikan sumbangan/kontribusi devisa ke negara yang tidak kecil.
Tapi sesungguhnya yang lebih penting adalah bahwa mereka adalah ujung tombak wajah negeri di negara-negara lain. Bahkan anak-anak bangsa yang mungkin karena satu dan lain hal telah mengganti “dokumen perjalanan” atau paspor masih terus memainkan peranan signifikan ini.