Oleh : Adam Abdul Ghani
Menjelang ceremonial sakral pemilihan bakal Calon Presiden dan Wakil Presiden Indoensia, terdapat beberapa kandidat yang digaungkan oleh berbakai koalisi.
Namun menurut beberapa Lembaga surveu, delapan bulan menjelang pemungutan suara digelar, peta elektoral diantara kandidat calon presiden terkuat masih terpecah dan belu ada kandidat yang benar-benar unggul.
Baca Juga: Urgensinya Debat Capres & Cawapres Bagi Rakyat
Tiga kandidat utama muncul dengan elektabilitas tertinggi, Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan.
Perkembangan suara dukuan terhadap kandidat terus mengalami perubahan. Menurut hasil survey Saiful Munjani Research & Consultant (SMRC) perolehan dukungan suara untuk Anies sempat mencapai angka 28,1%, setara dengan Prabowo. Dengan membawa ‘perubahan’ yang menjadi antitesa adri pemerintahan Jokowi yang mendapatkan berbagai penilaian kurang puas, menjadi modal awal Anies untuk dapat mengambil suara.
Baca Juga: Kepongahan Liar Yang Membuat Kerusakan di Bumi
Kekecewaan atas kinerja Jokowi yang tidak memuaskan dan sikap Prabowo yang bergabung ke dalam cabinet Jokowi sebagai Menteri Pertahanan usai kalah di pilpres 2019. Banyak warga pemilih Prabowo di Pilpres 2019 yang merasa kecewa dan enggan kembali memlihnya usai kedekatan antara Prabowo dan Jokowi belakangan.
Selain itu amunisi lain yang dimiliki Anies ialah rekam jejaknya di kalangan pemilih Islam usai menang di Pilkada DKI Jakarta 2017 melawan Gubernur petahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang diwarnai isu penistaan agama.
Baca Juga: Melalui Hari HAM Sedunia Kita Tolak Berbagai Bentuk Diskriminasi
Menurut berbagai kalangan, Anies dikenal dekat dengan rakyat dan milenial. Kinerjanya sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022. Banyak pihak yang merasa puas dengan kinerja Anies dan mengahrapkannya untuk naik sebagai Capres 2024.