Oleh : Jacob Ereste
Jadi yang menggeragas untuk mendapatkan pangkat atau jabatan yang tidak wajar itu, sama saja dengan menempelkan sejumlah gelar yang tidak ada bobot apapun yang tidak terbukti memiliki keampuhan apapun, kecuali hanya sekedar untuk gagah-gagagan belaka.
Sama seperti ungkapan dari pepatah lama bahwa air beriak itu tanda tak dalam, agaknya bisa dipahami juga dalam makna yang nyaris sama.
Baca Juga: Kepalsuan Yang Mengepung Kita (Bag 1)
Tetapi pada era serba palsu sekarang ini mulai dari gigi palsu, ijazah palsu, beras palsu, hidung palsu, uang palsu sesungguhnya menunjukkan bahwa fenomena dari aksesoris itu sebagai bagian dari upaya untuk menipu diri sendiri agar bisa tampil lebih mengesankan dalam upaya untuk menipu orang lain pula.
Karena itu pernah ada masanya gairah untuk tampil lebih wah, meski semua yang digunakan itu adalah palsu, bukan milik diri sendiri, tetapi punya orang lain. Sebab persewaan atau foto-copyan untuk beragam keperluan agar bisa terkesan tampil gagah dan wah, bisa dengan mudah untuk menggunakan milik orang lain.
Baca Juga: 10 Manfaat Mengunyah Perlahan Sesuai Sunah Rasul, Bagus Untuk Pencegahan Asam Lambung
Atau, bisa juga dengan cara menyewa, seperti teman untuk mendampingi ke acara pesta.
Begitulah yang tengah menggejala sekarang ini. Dalam hidup dan penghidupan kita hari ini serba ada di tengah kepalsuan-kepalsuan yabg semua. Atau semacam asesoris imitasi sekedar untuk menghias diri.
Baca Juga: Berapa Standar Asam Urat? Cek Disini .....
Dalam proses pelaksanaan Pemilu 2024 pun, prakteknya tercermin mulai dari janji-janji palsu, keberadaan masa pendukung palsu yang dibayar karena para calon kontestasinya pun lumayan dominan mengusung lebih banyak kepalsuan.***