Oleh : Jacob Ereste
Rasa malu itu adalah batas terakhir dari harga diri. Karena itu orang jadi berani untuk bertarung meski tahu pasti akan kalah tetap menjadi pilihan yang tiada ragu sedikit pun.
Baca Juga: 10 Manfaat Mengunyah Perlahan Sesuai Sunah Rasul, Bagus Untuk Pencegahan Asam Lambung
Karena itu ketika urat malu seseorang telah putus, maka akan pupus pula segenap harga dirinya. Di dalam keyakinan warga masyarakat Nusantara, ada istilah siri. Ada juga fi'il pesengiri yang tak bisa ada tawar-menawar.
Meski resikonya harus mati. Dalam tradisi masyarakat Melayu, lebih baik mati berdiri dari pada hidup bertekuk lutut.
Baca Juga: Berapa Standar Asam Urat? Cek Disini .....
Sikap rawe-rawe ratas itu pun sama saja dengan pertaruhan habis-habisan, dari pada mundur sejengkal dari prinsip yang diyakini sebagai harga diri itu.
Maka itu, agak aneh jika sekonyong-konyong ada manusia Nusantara ini yang sudah tak lagi memiliki urat malu, sehingga apapun dilakukan tanpa lagi hirau pada etika, moral dan akhlak sebagai nilai kemanusiaan yang paling tinggi untuk dijunjung di atas mahkota yang dianggap paling terhormat itu.
Sebab semegah apapun mahkota yang ada diatas kepala itu, tiada lagi ada artinya sama sekali. Oleh sebab itu, jabatan dan pangkat setinggi apapun, tak akan punya arti apa-apa ketika harga diri sudah jatuh dalam pandangan banyak orang.
Baca Juga: Penyakit Autoimun, Ketika Tubuh Melawan Diri Sendiri
Oleh karena itu, pangkat dan jabatan sekalipun harus diperoleh dengan cara yang terhormat.
Tiada artinya bila dimiliki dengan cara yang culas seperti menghalalkan segala cara. Dan semua orang akan paham bagaimana keabsahan dari pangkat dan jabatan yang didapatkan dengan tipu daya yang licik dan tidak elegan.***