opini

Harga Beras Naik Nilai Partai Justru Merosot, Terpuruk Seperti Saham Di Bursa Efek Jakarta (Bag 2)

Jumat, 29 September 2023 | 14:03 WIB
Jacob Ereste

Oleh : Jacob Ereste 

Ini cerita, pesan Rachimin hanya boleh dibaca dan bisa dibayangkan terjadi dua abad mendatang. Sebab hari ini di Indonesia orang sedang riuh dan gaduh bicara soal rencana pesta demokrasi tahun 2024 yang sedang bingung menentukan pilihan pasangannya.

Baca Juga: Harga Beras Naik Nilai Partai Justru Merosot, Terpuruk Seperti Saham Di Bursa Efek Jakarta (Bag 1)

Lagian, repotnya juga sedang merancang skenario untuk satu putaran, bukan saja untuk menghemat biaya yang nyaris menyedot habis dana APBN, tapi juga untuk sekedar menutup keperluan lain pun negara sudah kelimpungan. Itu sebabnya kereta cepat mohon dimaklum juga jadi terlambat. Pembebasan tanah jalan tol di Sumatra Barat, toh belum semua bisa dibayar.

Karenanya, harga beras yang terus melambung tidak karuan dan tidak mampu dikendalikan, bisa juga dipaham.

Baca Juga: Pemerintah Tidak adil Terhadap Tiktok Shop (E-Commerce)

Konon cerita duit yang sudah digelontorkan agar Bulog membeli padi dari petani kita itu, ketelingsut entah di mana rimbanya. Begitu pula peredaran dan perputarannya.

Saran dari para tokoh yang kurang cerdas, untuk mengatasi masalah beras yang semakin langka dan mahal, rakyat disarankan agar beralih kepada makanan pokok umbi-umbian.

Meski kebon singkong yang sudah direncanakan menjadi ketahanan pangan itu dalam jumlah puluhan ribu hektar yang telah melahap anggaran besar itu hasilnya nihil, tak tak jelas juntrungannya.

Duit yang disebut ratusan triliun hilir mudik di sektor pajak Kementerian Keuangan, toh belum juga bisa dicairkan. Tidak pula cuma duitnya semara yang tak jelas, tapi kasus dan urusan masalahnya juga terkesan sudah dimasukkan ke kulkas.

Pikiran nakal sebagian rakyat kecil bisa kembali liar ingin menjarah seperti peristiwa tahun 1998. Mimpi buruk seperti itu tak bagus diangankan. Selain akibatnya sangat buruk, lagian petugas kita sekarang lebih galak mau menggusur dan membuldozer siapa saja yang dianggap tidak sejalan dengan kehendak pemerintah. Ingat, banyak peristiwa sudah membuktikan, bukan cuma di Pulau Rempang,
Kepulauan Riau itu saja rakyat yang dianggap membandel jadi babak belur, tapi warga Lampung, Morowali, Wadas Purworejo, sudah menanggung dera dan derita yang membuat aparat itu kelak terkutuk dalam api neraka.

Baca Juga: MATAK Desak Proses Hukum Pelaku Penganiayaan Aktivis Mahasiswa Cianjur

Narasi paparan ini, dikirim Rachimin dari kampung yang jauh di ujung pulau seberang sana, sambil memohon untuk tidak menyebut identitas dirinya. Sebab menurut dia, jika terungkap, maka urusannya terhadap aparat keamanan setempat bisa panjang urusannya, kata Rachimin yang pada intinya mau mengeluhkan harga beras yang mahal, sementara harga partai politik, kok begitu murah.

Kecuali itu pertanyaan yang dia keluhkankan, harga beras dan nilai partai yang gonjang-ganjing ini sesungguhnya mengusyaratkan gejala apa. Lalu mengapa jadi terkesan ganjil dan muskil. Sungguh na naib bagi dirinya yang penuh pertanyaan. Sebab semua peristiw aneh yang bantak terjadi pada akhir belakangan ini sungguh aneh, kata Rochimin di akhir suratnya yang baru keterima petang.***

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB