Kartini pernah menulis:
“Andaikata aku anak laki-laki,
aku tak akan berpikir dua kali,
untuk menjadi pelaut.”
Gema kalimatnya tetap relevan
melukiskan kegelisahan zaman
tentang cita yang teramat indah
terperangkap dalam dada sejarah
dalam konteks kekinian
menjelma semesta digital tak bertepi
sehingga tidak cukup hanya keberanian
untuk mengarungi badai kehidupan ini
Menjadi pelaut hari ini
bukan sekadar menaklukkan ombak
melainkan membaca arus yang tersembunyi
di samudra algoritma yang terus bergerak
pelaut sejati di zaman ini
bukan yang tercepat dalam menyeberangi
melainkan yang mampu menjaga nurani
menjadi kompas di tengah arus yang tak pasti
sebab angin kebebasan berbeda rupa
kadang berupa suara, kadang berupa data
digelorakan dengan berbagai cara
yang tidak selalu jelas asal usulnya
Malang, 21 April 2026
Salam sehat,
M. Sinal