JOURNALNUSANTARA.COM - Di tengah gawai dan gempuran permainan digital yang kian mendominasi keseharian anak-anak, pemandangan berbeda justru terlihat di kampung Maniksari, Desa Sukasari, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur.
Sejumlah anaktampak ceria bermain seluncuran tanah kering, sebuah permainan tradisional yang kini jarang di jumpai.
Dengan memanfaatkan lereng tanah yang licin dan kering, anak-anak meluncur satu persatu menggunakan alas sederhana seperti karung atau sandal jepit.
Baca Juga: Tak Hanya Mempercantik Ruangan, Tanaman Hias Ini Mampu Menyaring Polusi Udara
Gelak tawa mereka pecah setiap kali ada yang terpeleset atau meluncur lebih cepat dari perkiraan.
Tanpa gadget dan tanpa koneksi internet kebahagiaan itu tumbuh dari permainan yang sangat sederhana.
Ermainan seluncuran tanah kering ini mengingatkan pada masa kanak-kanak tempo dulu, ketika alm menjadi ruang bermain utama.
Di banyak wilayah perkotaan, permainan semacam ini hampir punah, tergantikan oleh ponsel pintar dan permainan daring.
Namun di Maniksari, tradisi bermain di alam terbuka masih hidup dan di minati.
Baca Juga: Enam Pelaku Pengeroyokan Debt. Colector Hingga Dua orang Tewas di Kalibata, Ternyata..?
Salah seorang warga setempat mengatakan, anak-anak di kampung tersebut masih lebih senang bermain bersama teman sebaya di luar rumah di bandingkan berlama-lma dengan gawai.
"Kalau sore hari atau libur sekolah, mereka sering main di sini. Kami sebagai orangtua senang karena anak-anak bisa aktif bergerak dan bersosialisasi" ujar seorang warga.
Keberadaan permainan tradisional seperti seluncuran tanah kering tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya yang patut dijaga.
Aktivitas ini mencerminkan kehidupan sederhana sekaligus mempererat ikatan sosial antar anak-anak di lingkungan pedesaan.