(Belajar dari Kearifan Lailah Mimunah)
Di tepi Tigris, senja bersujud dalam diam,
airnya berzikir, menyebut-Nya siang dan malam
Seorang wanita sufi berdiri, merenung dalam-dalam
Membawa hatinya yang karam,
di antara dunia dan cinta yang tak pernah padam
Seorang kekasih yang malu pada Kekasihnya,
tak meminta lebih, hanya ingin rido dari-Nya
Ia berkata pada tukang perahu di dekatnya:
“Doakan aku, sebab aku hanyalah debu di hadapan-Nya.”
Tukang perahu tersenyum, seolah-olah tidak percaya
tapi dari lisannya mengalir kalimat cahaya:
"Mimunah mengenal Allah, dan Allah mengenal Mimunah."
Hanya itu doanya, namun langit pun menunduk mendengarnya
Mimunah menutup mata, tenggelam dalam doa itu,
setiap kata seolah mengantarkan ke mana ia menuju
Tigris pun jadi ramah, tunduk dan menghormati
karena tahu yang berdoa mengenali sumbernya sendiri
Sebuah kearifan yang dapat menjadi teladan
doa yang lahir dari kesadaran bukan sekadar permintaan,
tetapi pertemuan dua cinta yang saling setia
antara hati yang bersih dan Tuhan yang Maha Kasih
Maka mengalirlah hidup seperti Tigris,
jangan melawan arus, tapi penuh optimis
Sebab yang sejati bukanlah kata romantis,
melainkan saat kita tak lagi merasa,
siapa yang berdoa, dan siapa yang mendengarnya
Malang, 29 Oktober 2025
Salam sehat,
M. Sinal