JOURNALNUSANTARA.COM - Ketan bakar, atau yang akrab disebut ketan uli, merupakan salah satu kuliner Betawi yang masih mudah ditemui di wilayah Bekasi.
Salahsatu hidangan tradisional ini kini hadir dengan beragam rasa dan pilihan topping, jauh lebih variatif dibandingkan padanan klasiknya yang hanya menggunakan kelapa parut atau serundeng.
Baca Juga: Bagaimana Kebakaran PT. Terra Drone Begitu Besar? Begini Penjelas nya
Namun, sedikit yang mengetahui bahwa ketan uli menyimpan sejarah panjang yang berkaitan erat dengan nilai kekeluargaan serta tradisi silaturahmi masyarakat Betawi.
Lebih dari sekadar soal cita rasa, kudapan ini juga memuat makna spiritual yang diwariskan turun-temurun.
Menurut pegiat sejarah kuliner nusantara sekaligus chef, Wira Hardiyansyah, proses pembuatan ketan uli dapat disebut cukup romantis karena melibatkan kerja sama antara laki-laki dan perempuan.
Setiap orang memiliki peran dalam menciptakan sajian tersebut.
“Biasanya pria bertugas menumbuk ketan, sementara perempuan memasak atau mengolah uli-nya.
Pembagian peran ini sarat makna, menjadi simbol kebersamaan masyarakat Betawi,” katanya.
Wira menambahkan, jauh sebelum masyarakat Betawi terbentuk, ketan sudah menjadi simbol pemersatu dalam hubungan sosial, baik di dalam maupun di luar lingkup kerajaan pada masa kejayaan Majapahit.
Baca Juga: Netizen Pertanyakan Fungsi SVLK, Kemenhut Gelagapan Hadapi Kayu Gelondongan
Catatan sejarah bahkan menunjukkan bahwa kudapan berbahan dasar ketan seperti wajik telah dikenal sejak era tersebut.
“Ketan itu kan punya kadar gluten tinggi, jadi mudah lengket. Nah, kelengketannya itu diibaratkan sebagai lambang berkumpulnya orang-orang, kedekatan yang makin erat,” jelasnya.
Dalam tradisi lama, pembuatan ketan uli juga dibalut sejumlah kepercayaan mistis. Ada syarat dan pantangan yang harus dipatuhi agar hasil ketan sempurna.
Baca Juga: 5 Fakta Menarik tentang Reproduksi Ovipar yang Harus Kamu Ketahui