JournalNusantara.com - Siapa menyangka, Jauh di Cape Town, Afrika Selatan, ada sebuah desa Indonesia yang disebut Bo Kaap.
Rumah-rumah di Bo Kaap dicat warna-warni, dengan desain arsitektur yang dipengaruhi gaya Belanda dan Inggris.
Bo Kaap ibarat hidden gem yang mengungkap bahwa orang-orang Indonesia telah menjadi bagian sejarah panjang Cape Town.
Baca Juga: KKB Serang Rombonga Polisi di Yapen, 2 Kendaraan Dibakar 1 Warga Tewas
Bo Kaap pula memiliki daya tarik bagi wisatawan. Terutama bagi yang beragama Islam. Di sana berdiri banyak masjid; dan salah satunya ialah masjid pertama yang didirikan di Afrika Selatan.
Menurut laporan dari Book Cape Town, dengan populasi lebih dari 6.000 penduduk di Bo Kaap saat ini, sekitar 90 persennya memeluk agama Islam.
Ketika Indonesia masih dijajah oleh Belanda melalui Verenigde Oostindische Compagnie, the (VOC), banyak pribumi yang dijadikan budak. Mereka kemudian dikirim ke Bo Kaap, Cape Town, Afrika Selatan.
Baca Juga: Jadi Perhatian Dunia Bandara Internasional Delhi Penuh Sesak, Netizen: Seperti Neraka
Orang Indonesia yang dikirim ke Bo Kaap merupakan budak yang berasal dari Pulau Jawa, Sulawesi, Bali, dan daerah lainnya.
Selain dari Indonesia, Belanda juga mengirim budak dari Malaysia dan negara lainnya di Asia ke Cape Town.
Akibat impor budak dari Asia Tenggara itu, Bo Kaap bahkan sempat memiliki julukan Cape Malays. Meski julukan ini tidak dapat dibenarkan sepenuhnya, karena tidak semua penduduk di sana merupakan keturunan Melayu.
Baca Juga: Heboh! Sebut Gempa Cianjur Karena Banyak Jablai, Bupati Geram
Sebagai bukti cukup kuatnya pengaruh orang Indonesia dalam budaya di Bo Kaap, ada kemiripan dalam penggunaan bahasa pada saat ini.
Contoh paling terkenalnya yakni frasa trim-makaasi yang masih digunakan oleh orang-orang Bo Kaap. Artinya sama persis dengan 'terima kasih' dalam padanan bahasa Indonesia.*(Adinda Indah)
Sumber : ayoindonesia.com