internasional

Amerika Itu Negara Para Pendatang!

Kamis, 14 November 2024 | 06:48 WIB
Kunci jawaban IPS kelas 9 halaman 36: Peta Amerika Serikat beserta dataran tinggi dan dataran rendahnya

Arogansi kaum putih

Kebutaan sejarah atau pembutaan sejarah Amerika memang sangat terasa kuat. Warga Amerika kulit putih yang sejatinya adalah juga pendatang atau keturunan imigran Eropa tiba-tiba terbalik dan seolah mereka adalah warga Amerika asli (pribumi). Sebaliknya siapapun yang berkulit non putih dipersepsikan seolah merekalah pendatang atau non pribumi (immmigran).

Pembalikan sejarah ini menjadikan warga kulit putih merasa memiliki privilege atau kelebihan dari warga lainnya. Dengan dukungan sistem (systemic support) mereka cenderung melakukan apa saja untuk menjadikan non putih seolah bukan warga Amerika yang punya hak kesetaraan. Pergolakan sosial antara kulit hitam dan warga kulit putih di tahun 60-an menjadi catatan sejarah kelam Amerika.

Terpilihnya Barack Obama beberapa tahun lalu meruoakan sejarah besar yang terjadi dalam perjalanan bangsa Amerika. Belum berselang lama sejak pergerakan warga kulit hitam di bawah pimpinan Martin Luther Jr. Amerika berhasil memilih seorang non putih menjadi presidennya. Tentu sebuah sejarah yang harusnya membanggakan bangsa ini.

Akan tetapi di balik kebanggaan itu ternyata juga meninggalkan luka di kalangan mayoritas kulit putih. Setelah sekian lama merdeka Amerika ternyata belum sepenuhnya siap dipimpin oleh seorang non putih, yang dianggap bagian dari minoritas. Dan sekali lagi, asumsi kuat itu masih ada bahwa non putih adalah immigran yang harusnya tidak memiliki atau pantas memimpin negara warga putih ini.

Ketidak senangan (displeasure) yang dirasakan oleh sebagian besar warga kulit putih itu terwakili oleh sikap Donald Trump dan petinggi Republikan yang melakukan upaya apa saja untuk menghalangi bahkan menjatuhkan Barack Obama. Donald Trump misalnya ketika itu mencari sekuat mungkin akte lahirnya karena dicurigai lahir di luar negeri. Maklum ayahnya adala seorang warga Kenya dan hanya pernah sekolah di Harvard University bersama ibunya.

Sentimen kebencian sebagian besar kulit putih terhadap Presiden Obama itulah yang berhasil dimainkan oleh Donald Trump dalam kampanye pada periode pertamanya. Modal rasisme menjadi salah satu modal utama kemenangan Donald Trump saat itu. Dan pada tingkatan tertentu modal rasisme ini masih menjadi senjata Donald Trump dalam melawan Kamala Harris baru-baru ini. Walaupun tidak sevulgar ketika di pilpres periode pertamanya.

Kita masih ingat bahwa dalam pemilihan presiden di Amerika baru saat itu kandidat Donald Trump secara terbuka dan terang-terangan didukung oleh kelompok kristen radikal yang dikenal juga dengan KKK. Dan dukungan ini tidak juga diingkari oleh sang calon (Donald Trump) ketika itu.

Dengan terpilihnya Donald Trump di periode pertama itu kelompok ekstrim putih yang dikenal dengan "White Supremacist" semakin menjadi-jadi. Jika di masa lalu merek kerap menterror imigran dan kelompok minoritas lainnya sebagai prilaku sporadis di sana sini, dengan kemenangan DT mereka seolah mendapat justifikasi sistem. Artinya tindakan rasisme kulit putih dan kekerasan yang biasa mereka lakukan seolah sudah menjadi bagian dari kebijakan pemerintahan Amerika.

Hal ini didukung oleh beberapa kebijakan dalam yang diambil oleh pemerintahan Donald Trump yang dinilai sangat anti non White ketika itu. Dari kebijakan melarang orang Islam (Muslim ban) dengan Executive Order I dan II, hingga kepada kebijakan untuk mendeportasi secara masif warga yang tidak bersurat (undocumented). Bahkan ada upaya upaya untuk menghapuskan hak warga negara (citizenship) melalui kelahiran, sekaligus penghapusan hak sponsorship untuk “immediate family” dan spousal sponsorship (sponsor suami-isteri).

Amerika sebagai pulau impian

Sejujurnya tidak ada seorang manusia yang mau meninggalkan tanah leluhurnya. Terkadang sesulit apapun itu kecintaan kepada tanah kelahiran menjadi bagian dari kehidupan seseorang yang tak terpisahkan. Bahkan seorang nabi Muhammad SAW pun tidak mau meninggalkan tanah kelahirannya Mekah jika bukan karena perintah Allah SWT.

Tapi kenapa banyak orang yang berkeinginan dan terus berdatangan ke Amerika? Apakah memang Amerika begitu menarik bagi banyak orang sehingga berjuang untuk bisa datang dan tinggal di negara ini?

Selama ini kita dengarkan jika banyak orang yang ingin datang ke Amerika karena Amerika disebut negara impian yang kerap disebut “American Dreams". Bahwa mereka yang datang ke negara ini membawa seribu satu impian, dan seolah Amerika memiliki kemampuan untuk mewujudkan impian itu.

Saya barangkali termasuk salah seorang yang salah memahami apa arti dari America Dream itu. Saya dan banyak orang memahami seolah impian yang dimaksud sekedar peluang ekonomi (economic opportunities), peluang pendidikan (educational opportunities), dan berbagai pertimbangan material duniawi sifatnya.

Halaman:

Tags

Terkini

Langkah Spiritual dan Fisik Menuju Baitullah

Kamis, 9 April 2026 | 16:31 WIB

Misi Penjaga Perdamaian Dunia Kontingen Garuda

Minggu, 5 April 2026 | 20:47 WIB

Tetap Jaga Jarak

Jumat, 6 Maret 2026 | 14:57 WIB

Variasi Durasi Puasa di Berbagai Belahan Dunia

Minggu, 22 Februari 2026 | 04:46 WIB

Setiap Serangan Israel ke Iran, Selalu Dibayar Lunas

Kamis, 19 Februari 2026 | 05:22 WIB

AS Tangkap Presiden Venezuela Maduro, Besok Siapa?

Senin, 5 Januari 2026 | 05:59 WIB

Indonesia Jd Pemimpin IG Terbesar di ASEAN

Senin, 8 Desember 2025 | 21:33 WIB

Zohran Mamdani, Syiahkah?

Minggu, 9 November 2025 | 19:59 WIB

Tangan Tetap di Pelatuk, Memaksa Zionis Tunduk

Jumat, 10 Oktober 2025 | 07:30 WIB

Delegasi Pesantren Al Masykuriyyah di Uzbekistan

Minggu, 28 September 2025 | 17:48 WIB