Minimal dua yang ingin saya sebutkan. Satu, lobby zionis Yahudi. Dan dua, Kristen garis keras evangelicals. Tak seorang capres/cawapres kecuali bertekuk lutut mengharapkan dukungan untuk memenangkan bahkan pencapresan sekalipun dari kedua group itu.
Pertemuan dengan Capres Donald Trump.
Penjahat perang (Natanyahu) juga akan bertemu dengan capres dari Partai Republican Donald Trump. Bagi Israel Donald Trump bukan orang asing. Donald Trumplah yang melicinkan jalan bagi pembukaan hubungan diplomatik antara beberapa negara Islam/Arab dengan Israel.
Di masanya Israel membangun hubungan diplomasi dengan Emirate, Bahrain, Sudah, dan lain-lain. Bahkan di zaman Donald Trump American untuk pertama kalinya secara resmi mengakui Jerusalem Timur sebagai Ibukota Israel, sekaligus memindahkan Kedutaan Amerika ke Kota yang dideklarasikan sebagai Ibukota Palestina. Kedua kebijakan Trump itu merupakan pelanggaran nyata ke berbagai resolusi PBB.
Keberhasilan di atas tentu tidak lepas dari peranan Utusan Khusus Trump untuk Timur Tengah, termasuk Israel-Palestina, sekaligus menantunya Jared Kushner.
Suami Ivanka Trump ini memang dikenal sebagai pengusaha muda sukses dan zionis ekstrim. Bahkan disinyalir sangat dekat dengan Pangeran Saudi Arabia Bin Salman. Sehingga dalam waktu empat tahun itu begitu banyak accomplishment (keberhasilan) yang dicapai.
Maka pertemuan yang akan terjadi antara Trump dan penjahat perang itu hanya semakin menambah kekhawatiran banyak orang. Bahwa jika nantinya Trump memenangkan pertarungan pilpres di Nopember mendatang, Israel akan semakin menjadi-jadi.
Apa yang selama ini disebut Trump sebagai “menyelesaikan peperangan” diartikan sebagai “habiskan orang Gaza” dan ambil alih daerah itu.
Apalagi Jared Kushner berkali-kali menyampaikan bahwa pantai lautan Gaza memiliki prospek ekonomi jika dibangun hotel-hotel dan pusat Kegiatan ekonomi. Tentu termasuk membangun kota judi seperti Las Vegas.
Pada akhirnya seperti yang sering saya sampaikan berkali-kali, selama konstalasi politik dalam negeri Amerika tidak berubah maka kebijakan luar negerinya akan memiliki warna yang sama.
Yang berbeda hanya style saja. Tapi secara substansi dan tujuan sama. Apalagi jika itu berhubungan dengan Israil, pasti nyanyiannya sama: “Israel adalah sekutu yang tak akan ditinggalkan”.
Secercah harapan itu ada pada Kamala Harris saat ini. Jika tidak semua keinginan (lima poin) di atas dipenuhi minimal ada political will dan keberanian (courage) untuk menghentikan bantuan militer dan finansial kepada Israel yang terus membantai rakyat sipil, khususnya anak-anak dan wanita.
Saya yakin Kamala Harris, walau tidak punya anak biologis, masih memiliki rasa keibuan (motherhood). Merasakan kesedihan dan keperihan Ibu-Ibu Gaza melihat anak-anak terbantai tanpa rasa kemanusiaan oleh Israel.
Kamala, you have that opportunity to do difference and better. Cease the momentum. Not only that you will be the first American woman to be elected. More importantly you can create your own unique history in America. That America is and can be better than what’s been shown so far. Do better!
Manhattan, Juli 2024
* Putra Kajang di New York City