JournalNusantara.com - Menjadi seorang Presiden di negara yang luas dari sisi geografis dan padat penduduk dari sisi demografis, menjadi suatu tantangan tersendiri pastinya. Pun demikian dengan sosok Presiden Repubik Indonesia terpilih Prabowo Subiyanto sosok sang negarawan.
Prabowo disebut sebagai negarawan karena ia terbukti sudah empat kali mengikuti kontestasi elektoral Pilpres hingga pada akhirnya ia dipilih oleh rakyat, hingga capaian 58% pemilih di Pilpres 2024 silam. Berkat kegigihan dan keikhlasan Capes terpilih Prabowo, ia dianugerahi ‘Zayed Medal’ dari Presiden Uni Emirat Arab (UEA) Syekh Mohammad bin Zayed Al Nahyan (MBZ).
Pengamat Hubungan Internasional (HI) Teuku Rezasyah mengatakan, penganugerahan ‘Zayed Medal’ dari Presiden Uni Emirat Arab (UEA) Syekh Mohammad bin Zayed Al Nahyan (MBZ) kepada Menteri Pertahanan Republik Indonesia yang juga presiden terpilih 2024-2029 Prabowo Subianto berkat ketulusan hati dan sikap kenegarawanannya.
“Orang Arab itu kan kalau melihat sesuatu itu melihat dari praktek dan dari hati, mereka juga bisa melihat rona wajah ketulusan, mereka bisa melihat ada ketulusan dari pihak Pak Prabowo untuk datang kepada mereka, dan untuk itu sekaligus juga beliau membawa Pak Gibran ya,” kata Teuku Rezasyah kepada wartawan, Jumat (17/05).
Menurut Teuku Rezasyah, selain ketulusan hati dari Prabowo Subianto, pemerintah UEA juga melihat ada jaminan kerja sama yang berkelanjutan antara pemerintah Indonesia yang baru dengan UEA. Apalagi, Prabowo-Gibran memastikan akan melanjutkan kerja-kerja Presiden Joko Widodo alias Jokowi ke depan.
“Saya perhatikan Pak Prabowo ini sangat mengerti upaya melanjutkan pencapaian terbaik Pak Jokowi tapi beliau ingin maju lebih lanjut, ini wajar karena melanjutkan pencapaian itu kan harus dilanjutkan dengan inovasi dan konsisten. Ini menunjukkan bahwa ada jaminan bagi pihak Uni Emirat Arab bahwa pembangunan yang selama ini dilaksanakan di Indonesia itu akan tetap berlanjut, akan sangat penting bagi Indonesia dan kami terbuka buat kerja sama lebih lanjut,” ucapnya.
Dikatakan dosen Ilmu Hubungan Internasional itu, gaya komunikasi pemerintah Indonesia juga dinilai berbeda dengan kepala-kepala negara dari Amerika maupun Eropa, di mana para kepala negara ini lebih mengandalkan konsultan mereka dan banyak membicarakan masalah terkait dengan Israel. Sementara Indonesia lebih mengutamakan kerjasama percepatan ekonomi dan budaya.
“Ini jarang dilakukan oleh orang-orang Barat, orang-orang Eropa Amerika kan datangnya misalnya komunikasi lewat konsultan ya kemudian jarang mereka datang ke sana kalau pun datang ke sana omongannya kan selalu upaya misalnya membackup Israel kan, kemudian terjebak dalam rivalitas Syiah Sunni,” ungkapnya.
“Tapi Pak Prabowo kan nggak bicara soal itu, yang beliau bicarakan pure ekonomi corporation, kemudian hubungan baik antar budaya, antar peradaban sesama dan ini sangat dihargai oleh pihak Uni Emirat Arab tersebut,” sambungnya.
Lebih jauh Teuku Rezasyah, kunjungan Prabowo dan Gibran ke UEA menjadi langkah awal yang baik menuju pelantikan mereka sebagai presiden dan wakil presiden terpilih pada Oktober 2024 mendatang. Apalagi pemerintah UEA sudah beberapa kali menjalin kerjasama dengan pemerintah Indonesia sebelumnya.
“Saya pikir iya karena Pak Prabowo ini benar-benar efisien dan efektif dengan waktu sekarang tinggal 5,5 bulan sebelum beliau pelantikan sudah ada gerakan-gerakan yang menjanjikan dari beliau, memang ini kan menunjukkan komitmen. Kalau dengan Arab itu pertama anda harus membuktikan bahwa anda itu tulus dan anda harus datang sendiri dan beliau sudah buktikan itu,“ jelasnya.
Diakui Teuku Rezasyah, Prabowo Subianto merupakan sosok pemimpin yang tegas dan tidak suka dengan intervensi negara luar atas kedaulatan bangsa Indonesia, hingga kebijakan atau keputusan-keputusan penting yang diambil nanti tidak keluar dari janji-janji yang telah disampaikan saat kampanye pilpres kemarin.
“Pak Prabowo kalau kita lihat janji-janji beliau itu sangat tegas, sangat terukur dan beliau sangat mengedepankan kepentingan nasional Indonesia, kemuliaan Indonesia dan juga memberlakukan negara lain secara fair dan Indonesia tidak akan jadi ekor negara mana pun, kira-kira pesan yang disampaikan Pak Prabowo itu,” akuinya.