Journalnusantara.com - Nama lahirnya Joseph Sterkenburg. Ia tamatan HBS di negeri Belanda tahun 1946. Kemudian dikirim ke Indonesia sebagai anggota Polisi Militer Belanda (Marsose). Tentu saja tugasnya memerangi kaum pejuang Indonesia yang gigih mempertahankan kemerdekaan RI.
Pertama kali bertugas di Buiternzorg atau Bogor. Sebagai anak muda waktu itu ia suka bergaul, tidak saja dengan ‘sinyo-sinyo” tetapi juga dengan kalangan pribumi. Seorang sahabat dekatnya antara lain Sidik anak Enoch Danubrata (Mantan Walikota Bandung).
Ketika bergaul dengan anak-anak muda pribumi, Sterkenburg mulai memahami bahwa sebenarnya yang disebut “kaum ekstrimis” oleh pemerintahnya pada waktu itu adalah kaum muda yang memperjuangkan keadilan bangsanya. Perjuangan keadilan untuk memperoleh haknya sbagai satu bangsa yang merdeka.
Keyakinan akan kebenaran perjuangan kaum muda Indonesia makin tebal ketika ia berkenalan dengan para tokoh pejuang di Jawa Barat seperti Kemal Idris, Kosasih, Kawilarang dan yang lainnya.
Ketika Perang Kemerdekaan I meletus ia dipindahkan dari Bandung ke Sukabumi, kemudian ke Cianjur. Rasa simpati pada perjuangan “kaum ekstrimis” makin mengganggu dirinya, hingga pada 1948 ia lari dari kesatuannya kemudian bergabung dengan pasukan Kemal Idris. Sejak itu ia berbalik memerangi kaum penjajah yang masih sebangsa dengan dirinya. Hati nuraninya yang lebih berbicara tentang keadilan.
Seusai perang kemerdekaan Bangsa Indonesia, ia ditarik menjadi anggota Kepolisian RI dengan pangkat Komisaris pada 1950. Tugasnya di DPKN (Dinas Pengawas Keselamatan Negara). Namun ia tidak kerasan menjadi polisi, pada tahun 1952 ia keluar dan memulai satu usaha di bidang bahan bangunan.
Entah mengapa ia memiliki minat yang sagat besar dalam masalah bangunan. Sejak tahun 1950-an ia suka mencoba-coba membuat bahan bangunan dari muntahan gunung berapi, yang disebut lahar. Ia mencoba membuat batu bata dari bahan itu. Ketika bertugas di Sukabumi, bahan itu ditemukan di daerah Cicurug.
Setelah keluar dari dinas Kepolisan RI, ia menetap di Cibadak dan mulai mendirikan usaha pembuatan Batako di Cicurug. Ia-lah orang pertama yang membuat Batako di tempat tersebut hingga era 1980 an bahkan 1990-an, Cicurug terkenal dengan batakonya. Dan Sterkenburg dikenal sebagai “Mbahnya” batako oleh penduduk setempat.
Menurutnya, pumais/bernis atau batu apung sebagai bahan bangunan sejak lama diketahui. Namun pemanfaatan pumais sebagai bahan bangunan kurang menguntungkan dibandingkan membuat batako.
Bahan baku batako dan pumais adalah satu, yaitu bekas magma gunung berapi yang disebut teras. Bahan baku itu disaring, yang halus untuk pembuatan batako dan sisanya berbentuk kerikil yang disebut pumais. Pumais yang paling baik yang berasal dari gunung Krakatau.
Ia juga menciptakan sendiri mesin-mesin cetak yagn sifatnya semi mekanis. Mesin-mesin cetak Batako yang dipakai oleh perusahaan-perusahaan Batako Cetak di Cicurug waktu itu adalah buatannya. Ia memiliki 3 buah tempat pembuatan Batako. Salah satu pabriknya direlakan dibongkar untuk dilewati saluran air demi kepentingan air minum masyarakat.
Ia resmi menjadi WNI tahun 1950. Kemudian menikah dengan wanita Sunda bernama Siti Hadijah. Setelah masuk Islam, dan kemudian naik haji di tahun 1974, namanya menjadi Haji Jusuf Stekenburg atau “Mbah Batako”.
Sumber: Berita Buana, 20-02-1979. Koleksi Surat Kabar Langka Salemba –Perpustakaan Nasional RI.