“Mbok ada apa,..? kok sepertinya mboke marah-marah..? Mbok ketemu beliau di mana?"
Si mbok tak menjawab keseluruhan pertanyaan pak Polisi, tetapi rada khawatir juga, dia menyatakan bahwa ia ngasih ongkos kok ditolak.
“Itu tadi lho pak, ...Si pak Sopir tadi kok malah nylonong saja, ...Saya itu mau bayar, tapi entah kurang bayarannya kok terus pergi begitu saja, saya kan malu,.. sama orang-orang yang jualan di sini,..!
Jawab pak Polisi: “Mbok., tadi yang si mbok tumpangi itu bukan Sopir,.. tetapi Sinuwun Sri Sultan Hamengkubuwono,.. lihat tadi mobilnya kan AB 1”
Spontan mbok bakul beras terperanjat, bagaikan disambar geledek.
Kekagetan yang luar biasa yang tak pernah dialami sepanjang hidupnya, kemudian ia berteriak histeris: “Aduuuh Gustiiiii, ...”
Selanjutnya badannya gontai dan terus jatuh pingsan.
Dia merasakan RAJA-nya yang selama ini;
~ sangat dihormati,..
~ sangat dicintai,..
~ senantiasa diagung-agungkan,..
~ kenapa disuruh ngangkat beras,..
~ tambahan.., kenapa beliau mau saja,..
~ kenapa beliau tidak marah,..
~ kenapa tidak membentaknya..
Ini yang menjadikan penyesalan mendalam sang mbok bakul beras sehingga pingsan...!!
Sesuatu yang perlu kita pertanyakan kepada diri kita adalah:
▪️Apakah dengan berbuat seperti itu Sri Sultan turun derajatnya..?
▪️Apakah dengan berbuat seperti itu kecintaan rakyat Jogja terhadap Sri Sultan luntur..?
▪️Apakah perbuatan Sri Sultan membantu orang kecil.., miskin.., menjadi terhina..?
▪️Mutiara sekalipun dimasukkan ke dalam lumpur tetap bersinar cemerlang..!
Semoga bermanfaat