Ratu Ageng adalah seorang perempuan yang agamis. Ia dikenal sebagai salah satu ulama perempuan di Jawa. Sebagai seorang ulama, kegemarannya ialah membaca kitab-kitab agama. Ia juga merupakan seorang penganut tarekat Syattariyah.
Ratu Ageng juga sangat disiplin menegakkan kehidupan yang religius. Kepribadian yang religius ini berjalan seimbang dengan kuatnya Ratu Ageng dalam menjaga adat istiadat budaya Jawa
Ratu Ageng kepribadiannya dikenal sangat bersahaja, taat beragama, dan hidup di tengah perkampungan yang jauh dari keraton dan jauh dari intrik-intrik politik di keraton. Kesederhanaan Tegalrejo mengajarkan Diponegoro sejak kanak-kanak, remaja hingga dewasa menjadi semakin dekat dengan petani, pedagang, bangsawan, santri dan ulama.
Untuk itulah, ketika terjadi Perang Jawa (1825-1830), kharisma Sang Pangeran menjadi modal dasar untuk menggerakkan para petani, pedagang, bangsawan, santri dan ulama bersama-sama satu tekat melawan Kolonial Belanda.
Ratu Ageng Tegalrejo wafat pada hari Senin, 17 Oktober 1803. Saat itu Diponegoro menginjak usia 18 tahun. Setelah Ratu Ageng wafat, Tegalrejo diwariskan kepada Diponegoro.
* Abror Subhi, Dikutip Dan Disusun Kembali Dari Berbagai Sumber
Oleh .Karya Budaya Bangsa