Journalnusantara.com - Dalam penyelenggaraan masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan, tuduhan nepotisme memang menjadi alat yang didengungkan untuk melumpuhkan kewibawaan khalifah.
Padahal apa yang terjadi tidak seburuk fitnah yang dilayangkan padanya. Dikutip dari berbagai sumber, adapun perbuatan khalifah Utsman yang dianggap sebagai wujud nepotisme ialah:
1. Menempatkan kerabatnya pada jabatan-jabatan penting.
2. Membakar mushaf-mushaf yang ada dan menyatukannya menjadi mushaf Utsmani.
3. Merenovasi masjid Nabawi, yang notabenenya tindakan tersebut tidak dicontohkan Nabi dan khalifah sebelumnya.
4. Melakukan tindakan bid’ah karena tidak mengqasar
shalatnya ketika ada di Mekkah. Padahal tindakan ini dipilih Utsman karena berniat mukim di tempat tersebut.
Serta tindakan selanjutnya yang dipermasalahkan ialah ketidakikutsertaan Utsman
pada perang Badar. Padahal tindakan tersebut adalah saran Nabi untuk menjaga istrinya, Ruqayyah.
Sementara, penunjukan beberapa penjabat yang memimpin di beberapa wilayah kekuasaan Islam, bukan semata mengandalkan faktor kekerabatan belaka.
Tetapi memang orang-orang yang dipilih oleh Utsman bin Affan adalah orang yang memiliki kompetensi untuk memimpin dan amanah terhadap jabatan tersebut.
Khalifah Utsman tidak mungkin melakukan hal tersebut, karena orang yang melakukan nepotisme tidak memiliki rasa malu.
Sementara Utsman adalah sosok khalifah yang memiliki rasa malu yang besar dan dijamin masuk surga, sehingga tidak memungkinkan melakukan tindakan yang berseberangan dengan nilai-nilai Islam.
Walaupun sebagian besar orang pada saat itu tetap menyalahkan Utsman, dan hingga terjadilah pemberontakan terhadap kepemimpinannya dan akhirnya Utsman terbunuh oleh kaum pemberontak.