Baca Juga: Mantan Ketua PWI Cianjur, H Rudi Asyari Meninggal Dunia, Disebut sebagai Penulis Sepanjang Masa
Bagi masyarakat Danau Toba, sigale-gale identik dengan kisah mengenang Manggale, sosok yang sangat dihormati masyarakat Batak Toba karena kehebatannya dalam memimpin perang.
Dia adalah anak laki-laki satu-satunya dari Raja Rahat, penguasa Samosir. Sampai suatu hari, Manggale diutus sang ayah untuk mengusir tentara dari kerajaan tetangga.
Namun sayang, Manggale tewas di medan pertempuran dan membuat Raja Rahat merasa kehilangan yang luar biasa. Seluruh rakyat turut bersedih atas gugurnya pewaris tahta Raja Rahat.
Oleh karena itu dicarilah pemahat terbaik di kerajaan untuk membuat patung kayu yang ciri-cirinya dibuat mirip dengan Manggale.
Bahkan, roh Manggale pun disisipkan ke dalam patung yang dinamai sigale-gale. Sehingga ketika Raja Rahat rindu kepada Manggale, ia akan mengajak si patung menari tor-tor dan kegiatan itu juga akan diikuti oleh seluruh rakyatnya, demi mengenang Manggale. Sampai hari ini tidak diketahui dengan pasti kapan seni pertunjukan sigale-gale itu dimulai di Pulau Samosir.
Seperti ditulis Sandy Situmorang dalam Seri Pengenalan Budaya Nusantara: Misteri Patung Sigale-gale disebutkan bahwa patung itu sebetulnya pertama kali dibuat oleh Raja Gayus Rumahorbo yang bermukim di Desa Garoga dekat Tomok pada 1930.
Baca Juga: Pasca Hadiri Istighosah di Cianjur, Wapres RI Pulang Naik Helikopter
Hebatnya, boneka sigale-gale buatan Raja Gayus saat itu bisa mengeluarkan air mata dan dapat mengusapkan ulos yang disandang di bahunya.
Namun, apa pun ceritanya, boneka sigale-gale telah memberi warna tersendiri bagi perkembangan seni dan tradisi masyarakat di kawasan Danau Toba, khususnya di Desa Tomok, Samosir, dan selalu dipertunjukkan dalam setiap kunjungan wisatawan dan pesta budaya setempat.