Journalnusantara.com, Jakarta - Dari kolam renang elit untuk warga Hindia Belanda, jadi gedung bioskop hingga Pasaraya Manggarai.
Dari selembar foto jadul koleksi saya pribadi tentang dua wanita tengah berpose di depan bangunan bertuliskan Zwembad Manggarai artinya kolam renang Manggarai Jakarta Selatan di tahun 1952. Zwembad dalam bahasa Belanda artinya kolam renang.
Zwembad Manggarai dibuka untuk umum pada tahun 1934. Termasuk kolam renang standar internasional versi Hindia Belanda, terbaik dan termewah pada masa itu.
Lokasi sekitar kolam renang masih berupa tanah kosong, persawahan, dan hutan. Lokasi bangunan utama menghadap sebuah sungai cukup lebar, deras dan dalam.
Sungai itu sekarang dikenal sebagai sodetan pintu air Ciliwung, yang sekarang menjadi Banjir Kanal Barat.
Biaya pembangunannya saat itu menghabiskan 100.000 gulden. Keberadaan kolam renang Manggarai diperuntukkan bagi kalangan warga kolonial Belanda yang bermukim di kawasan Batavia (Jakarta Kota) dan Menteng, Jakarta Pusat.
Juga kalangan masyarakat pribumi kelas atas di Batavia. Berbagai acara juga pernah digelar di kolam renang tersebut, seperti lomba ratu kecantikan, tentu untuk kalangan warga Belanda.
Setelah Indonesia merdeka keberadaan kolam renang masih berfungsi, namun bangunan utama kolam renang menjadi gedung bioskop. Masih tetap menggunakan nama Zwembad Manggarai.
Seorang warga Rawa Sari berusia 65 tahun bercerita, dulu sering ke kawasan Zwembad Manggarai yang bangunan depannya sudah berfungsi sebagai gedung bioskop di tahun 1980an.
Dia ke sana bukan untuk berenang melainkan untuk icip-icip soto daging yang enak di sekitar area kolam renang. Sayang warung soto dagingnya tidak terlacak hingga sekarang.
Kabarnya, saat kolam renang tersebut dibongkar, sisa tegel-tegel bangunan kolam renang yang antik, diminati banyak pihak.
Dalam perkembangan waktu akhirnya Kolam Renang termewah di Batavia itu dibongkar dan dibangun menjadi pusat belanja.