olahraga

Revolusi Ala Ruben Amorim, Terapkan Standar Tinggi di Manchester United

Rabu, 18 Desember 2024 | 05:51 WIB
Foto pelatih Manchester United, Ruben Amorim yang dikabarkan berminat menggaet wonderkid muda asal Amerika Serikat (Sumber: Fauzi Rony / Indonewstoday.com / Instagram @manchesterunited)


Oleh: Agung Wibawanto

"Persaingan semakin ketat. Jika anda ingin menang dalam sebuah kompetisi, maka tetapkan standar tinggi pada diri anda," (Ruben Amorim - Manchester United).

Standar tinggi yang dicanangkan Ruben Amorim di Manchester United bukanlah pemain bintang yang hebat dan tersohor. Apa gunanya hebat jika tidak mampu bermain sebagai tim? Apa gunanya hebat jika tidak punya semangat kolektivitas? Apa gunanya hebat jika malas?

Dua bintang MU, Marcus Rashford dan Alejandro Garnacho, diberi anugrah Tuhan memiliki bakat dalam mengolah bola. Namun keduanya tidak masuk dalam skuad saat MU berhadapan dengan tetangganya Manchester City. Pertandingan derby yang penuh pertaruhan gengsi hingga kehormatan.

Banyak pengamat bola serta fans MU yang menganggap Ruben sebagai coach baru, orang yang gila. Bagaimana mungkin 2 pemain kunci yang pada pertandingan-pertandingan sebelumnya tidak tergantikan, justru tidak masuk dalam skuad? Betapa beraninya Ruben?

Tidak heran para penggibol memprediksi MU akan dilumat City yang bermain selaku tuan rumah (bermain di Ettihad Stadium). Namun fakta di lapangan, Ruben mampu menepis semua prediksi sebelumnya. MU berhasil pulang dengan membawa 3 poin, alias menang 1-2 atas tuan rumah City.

Jika MU kehilangan 2 pemain utama, padahal mereka fit, sebaliknya City kehilangan 1 pemain kunci yakni Rodri karena cidera. City masih mengandalkan pemain seperti Haaland dan KDB. Mengapa MU bisa menang dan City kalah? Jawabannya, perbedaan standar.

Ruben menetapkan standar sangat tinggi bagi MU sementara City masih berharap kepada standar lama. Standar yang sangat tinggi karena pemain sekelas Garnacho dan Rashford pun tidak dimainkan. Standar itu adalah semangat dan kemarahan mencapai kemenangan.

Mungkin bagi Ruben, "Beri saya 11 pemain yang siap berperang dengan rasa penuh amarah untuk mendapatkan kemenangan, ketimbang 11 pemain sekelas Messi ataupun Ronaldo tapi tanpa semangat perlawanan..." Itu juga yang ia buktikan saat menangani klub Porto FC yang juga mengalahkan City 4-0.

Filosofi ini mirip dengan Sir Alex Ferguson saat menangani MU. Ia mentreatment pemainnya agar selalu haus kemenangan di setiap game melawan siapapun. Semangat ini yang kemudian seperti hilang sejak MU ditinggalkan SAF yang terkenal dengan metode hairdryer-treatment nya.

SAF juga tidak mengenal pemain bintang. Baginya, pemain MU yang siap bertempur penuh semangat lah yang akan ia turunkan. Ia tidak peduli pemain sehebat apapun jika hanya sibuk mementingkan dirinya sendiri. SAF dan Ruben berani dengan tegas menyingkirkan pemain selfish.

Meski begitu, the Ruben's Power ini masih butuh pembuktian akan konsistensi sikap tegasnya tersebut. Mengingat Ruben baru memainkan beberapa game di mana posisi MU memang tengah terpuruk paska Erik Ten Hag dipecat dari jabatan pelatih. Berada di posisi 13 tentu butuh perjuangan keras untuk merangkak ke atas.

Media Inggris mengatakan MU tengah melakukan langkah revolusioner. Mengimbangi dua klub Liverpool dan Chelsea yang terlebih dahulu sukses bersama pelatih barunya. Lalu bagaimana dengan City? Hingga saat ini Pep Guardiola masih cukup aman meski dalam 11 pertandingan akhir di seluruh game hanya meraih 1 win.

Pep belum berani seperti Ruben yang menetapkan standar tinggi pemainnya. Pep masih percaya dengan pemainnya yang punya skill dan pengalaman. Meski sebagian besar sudah berusia di atas 30-an. Pemain City juga mungkin sudah merasa berhasil mendapatkan segalanya hingga mereka mengalami kepuasan semu. Tidak punya semangat lagi.

Tags

Terkini

Mencerna Makanan Saat Sakit

Sabtu, 4 April 2026 | 10:43 WIB

Taktik Serangan Balik Sepakbola

Jumat, 3 April 2026 | 20:38 WIB