olahraga

Australia Tidak Berani Menyerang Atau Indonesia yang Tidak Mau Merebut Bola?

Selasa, 29 Oktober 2024 | 21:09 WIB
Asisten Shin Tae-yong, Nova Arianto yang merupakan pelatih timnas U-17 Indonesia (PSSI.ORG)


Oleh: Agung Wibawanto

Tersaji sebuah drama aneh pada pertandingan yang mempertemukan Timnas U17 Indonesia dengan Timnas U17 Australia. Laga akhir di Grup G yang harusnya menjadi hidup-mati bagi kedua tim, namun tidak sebagaimana layaknya pertandingan penentu. Kedua tim, terutama di babak kedua, justru tampil lamban dan menjemukan.

Seolah sama-sama memilih hasil draw yang memungkinkan mereka lolos ke Piala Asia U17. Dari hitungan tambahan 1 poin, Australia sudah pasti lolos dikarenakan duduk sebagai juara grup. Memiliki poin sama dengan Indonesia namun Australia menang selisih gol. Sedang Indonesia saat masuki pertengahan babak kedua dipastikan lolos sebagai runner up terbaik ketiga.

Sebelum laga berlangsung, Australia yang datang sebagai tim favorit sangat diunggulkan dapat mengalahkan Indonesia. Hal itu memang terlihat pada babak pertama di mana anak-anak dari negeri kangguru tersebut berhasil menguasai jalannya pertandingan. Mereka mengurung dan kerap merepotkan barisan belakang timnas Garuda Muda.

Sementara Indonesia hanya mengandalkan pertahanan dan serangan balik yang beberapa kali juga sempat membahayakan gawang Australia. Babak pertama berkesudahan 0-0. Baik Indonesia maupun Australia hanya mampu membuat peluang emas namun tidak membuahkan gol. Penonton berharap pada babak kedua pertandingan semakin sengit.

Intensitas serangan kedua tim diharapkan bisa lebih ditingkatkan lagi karena masing-masing tidak ingin kalah. Kalah berarti hanya memiliki nilai 6 dan berada pada posisi runner up. Hal itu akan terancam dalam persaingan 5 runner up terbaik. Namun apa yang terjadi? Di menit awal babak kedua, kedua tim masih menampilkan berbalas serangan. Tapi memasuki menit ke 60, situasi berubah.

Kedua tim tampak tidak ingin mengambil resiko jika menyerang dan bermain terbuka. Baik Australia maupun Indonesia tampak hanya memainkan bola saat menguasai. Sementara yang bertahan juga tidak melakukan upaya pressing ataupun merebut bola. Penguasaan bola lebih banyak dipegang Australia yang sepertinya juga tidak berani masuk melakukan serangan.

Tiga hingga empat pemain belakang Australia tampak seperti melakukan latihan passing saja. Indonesia yang bertahan pun tidak berusaha naik merebut bola. Sepertinya kedua tim sepakat meraih hasil draw. Meski berharap draw, namun sesungguhnya masing-masing tim akan "membunuh" jika memang ada peluang. Dan kedua tim tidak mengupayakan terciptanya peluang itu karena beresiko "terpeleset".

Tentu hal ini membuat penonton kecewa hingga sempat memberikan teriakan kepada pemain di lapangan. Penonton sudah membayar mahal hanya disuguhkan sepakan bola oleh 3-4 pemain belakang Australia saja. Jelas hanya membuang-buang waktu dan hingga wasit meniup peluit akhir masih tetap seperti itu. Tidakkah ini menciderai nilai fair play dan juga spirit pertandingan yakni meraih kemenangan?

Setiap atlit olah raga (apapun) yang tengah berlaga di arena memiliki misi bertanding untuk menang, bukan untuk kalah ataupun draw. Pada event pertandingan tinju atau bela diri lainnya, jika kedua atlit tidak aktif atau tidak ada yang melakukan serangan, maka wasit akan mengingatkan keduanya agar lebih aktif untuk fight. Dalam laga di atas seharusnya wasit juga bisa berinisiatif mengingatkan.

Wasit bisa saja menghentikan pertandingan dan memanggil kedua kapten agar melakukan pertandingan yang sesungguhnya. Mengapa, karena gaya bertanding semacam itu sangat mungkin dicap "pertandingan gajah". Mereka bisa dianggap tidak bersungguh-sungguh, dan lebih buruk lagi ada "money game" di dalamnya. Ini menunjukkan laga sudah tidak sportif, melanggar nilai-nilai dan semangat pertandingan.

Sebagai supporter Indonesia, tentu kita tidak menghendaki timnas lolos dengan cara main semacam itu. Lebih buruk lagi Australia yang dianggap tim kuat, kedudukan lebih aman, serta memiliki penguasaan bola lebih banyak. Tim yang menguasai bola lah yang harusnya bertindak menyerang. Bukan hanya memainkan bola oleh 3 pemain di wilayahnya sendiri.

Mungkin baru pertama ada laga aneh seperti ini. Benar tidak ada peraturan yang dilanggar, dan benar pemain hanya mengikuti strategi pelatih. Namun bagaimana dengan mental bermain anak-anak muda itu yang diajarkan menghalalkan segala cara? Adakah kebanggaan di hati mereka? Senang kah mereka mendapat cemooh penonton? Maukah mereka jika disalahkan (bertanding tanpa semangat)?

Tags

Terkini

Mencerna Makanan Saat Sakit

Sabtu, 4 April 2026 | 10:43 WIB

Taktik Serangan Balik Sepakbola

Jumat, 3 April 2026 | 20:38 WIB