betapa anehnya rasa
ketika logika tak lagi berkuasa
menjelma menjadi satu-satunya bahasa
nurani pun larut, kehilangan daya
menggugurkan segala pertimbangan
nalar pun tunduk tanpa perlawanan
sehingga tak mampu membedakan
antara kesalahan dan kebenaran
ego menjulang tanpa tepi
menutup mata dan hati yang suci
membisikkan kebenaran versi diri
seakan dirinya yang paling mengerti
yang tampak bukan lagi kebaikan
melainkan cela dan kekurangan
setiap terang berubah bayangan
setiap indah menjadi kesalahan
pandangan pun kehilangan keseimbangan
terperangkap dalam prasangka dan tuduhan
menilai tanpa memahami keadaan
menghakimi tanpa memberi kesempatan
jiwa pun menjelma cermin yang retak
memantulkan bayang yang kian pekat
segala yang tampak seolah rusak
padahal tak seburuk yang dilihat
Malang, 30 Mei 2026
Salam sehat,
M. Sinal