Ada satu kebiasaan
merasa berhak memutuskan
siapa yang pantas masuk surga
dan siapa yang harus ke neraka
Seolah-olah punya meteran spiritual
yang langsung dibeli dari langit
yang dihitung bukan kedalaman akal
tapi berapa kali orang datang ke masjid
Lupa menghitung sudah berapa kali
hatinya sendiri iri dan dengki
sehingga rajin sekali mengomentari
kekurangan orang lain tanpa ia sadari
Sibuk menakar dosa orang lain
Merasa dirinya suci lahir dan batin
Sampai tak terlihat bayangannya sendiri
Tertutup kesombongan yang ia miliki
Dalam pikiran mereka
merasa paling sempurna
meski kaca di rumahnya
sudah retak di mana-mana
Lupa, bahwa iman dan keyakinan
Urusan manusia dengan Tuhan
Bukan tindakan menghakimi
siapa yang sesat, siapa yang suci
Malang, 4 Januari 2026
Salam Sehat,
M. Sinal