Sedikit saja aturan dilanggar, hasilnya bisa tidak enak atau bahkan gagal.
“Prosesnya memang gampang-gampang susah. Dulu, ketan uli biasanya dibuat berbarengan dengan pemotongan kerbau andilan, tradisi masyarakat Betawi menjelang lebaran atau acara penting lainnya,” ujar Wira.
Meski kini ketan uli memiliki banyak variasi, Wira menilai inovasi tersebut tidak menghilangkan jati diri kuliner tersebut.
“Biasanya yang dimodifikasi itu topping-nya. Ketan dasarnya tetap sama. Sejarahnya juga harus tetap dijaga dan tidak boleh hilang,” tutupnya.