Ada sebuah pepatah tua
Yang kerap terdengar di telinga:
“Lain di bibir, lain di hati.”
di ruang diskusi warung kopi
Janji-janji manis
Sebagai kaum reformis
Hanya gula-gula lumer di lidah
Menyisakan pahit yang kian terasa
Alih-alih menghadirkan kebenaran
Justru memanipulasi sejumlah kebohongan
Kata-katanya penuh reformasi dan perjuangan
Tapi hatinya diam-diam tunduk pada kepentingan
Parade kata indah terucap rapi di media sosial
Seolah-olah penuh amanah dan masuk akal
Namun antara kata dan kenyataan
Meninggalkan masalah dan kekecewaan
Berdenting bagai lonceng gereja
Yang hendak memanggil jemaat
Masing-masing hanya berpura-pura
Agar orang lain bisa terpikat
“Tong kosong nyaring bunyinya.”
Benar-benar kosong tak ada isinya
Kecuali hanya menghitung jatah kursi
Yang bisa diduduki
Malang, 21 Agustus 2025
Salam sehat,
M. Sinal