Dalam sastra klasik, lapar sering menjadi metafora kerinduan. Jalaluddin Rumi menulis, "Tuhan memberi kita rasa lapar agar kita merasakan manisnya makanan." Hal ini bukan hanya merujuk pada makanan jasmani, tetapi juga pada kerinduan batiniah manusia kepada Sang Pencipta.
Seorang pencari kebenaran akan selalu merasakan lapar akan ilmu. Seorang pecinta akan selalu merasakan lapar akan perjumpaan dengan kekasihnya. Begitu juga seorang hamba akan selalu merasakan lapar akan kasih Tuhan.
Dalam kehidupan sosial, lapar juga menjadi perekat yang menyatukan manusia. Berbagi makanan adalah simbol kebersamaan yang paling purba. Oleh karena itu, dalam budaya mana pun, makan bersama menjadi momentum mempererat hubungan dan memperdalam cinta.
Sungguh ironis, di era modern ini, kita semakin sulit makan bersama dengan orang-orang terdekat kita. Masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri. Sementara meja makan yang dahulu menjadi tempat berbagi cerita, seolah-olah dibiarkan kosong begitu saja.
Lapar yang menumbuhkan cinta bukanlah lapar yang melemahkan atau menyengsarakan. Ia adalah lapar yang menyadarkan. Ia adalah rasa kosong yang mengajarkan kita arti kebersyukuran.
Dengan kata lain, ia adalah kekurangan yang membentuk kita menjadi manusia yang lebih peduli. Dengan demikian, mungkin sesekali kita perlu berhenti sejenak dan merasakan lapar, bukan hanya di perut, tetapi juga di hati. Sebab di dalam lapar tersebut, kita akan menemukan cinta yang lebih tulus, lebih mendalam, bahkan lebih bermakna.
*Penulis adalah Corporate Legal Consultant, ahli bahasa hukum, founder Pena Hukum Nusantara (PHN), dan dosen Polinema