Oleh Mohamad Sinal
Dalam kefakiran rasa, kita menemukan makna. Dalam kosongnya perut, semangat tak boleh surut. Sambil menunggu untuk diisi, tidak hanya berupa makanan tetapi oleh pemikiran.
Lapar bukan hanya sekadar kebutuhan fisik yang menjerit meminta perhatian. Lapa juga jendela yang membuka pemahaman kita. Lebih dalam tentang diri, kehidupan, dan bahkan cinta.
Seperti cahaya yang akan menyinari gelapnya malam. Lapar adalah pertanda bahwa ada sesuatu yang menunggu. Bahkan dapat mengandung hikmah yang menumbuhkan kasih sayang.
Ibnu Sina, dalam risalah-risalahnya menegaskan bahwa keseimbangan tubuh sangat dipengaruhi oleh pola makan dan kelaparan yang terjaga. Dalam kitab Al-Qanun fi At-Tibb, ia menekankan bahwa perut yang selalu kenyang akan menghambat ketajaman akal. Selain itu, juga meredam semangat jiwa.
Dengan kata lain, lapar bukan hanya kondisi biologis. Lapar adalah jalan untuk membersihkan tubuh dan pikiran. Bahkan, dalam dunia pengobatan, puasa digunakan sebagai metode untuk mendetoksifikasi tubuh dari zat-zat yang berlebihan.
Jadi, lapar bukan hanya urusan jasmani semata. Ia adalah jalan menuju kelembutan hati. Jalan yang dapat menuntun manusia untuk bersikap empati.
Pernahkah kita memerhatikan seseorang yang terbiasa hidup berkelimpahan namun kehilangan empati? Semua itu membutktikan betapa kenyang dapat membuat seseorang lupa bahwa di luar sana ada yang menderita. Ada yang menanti sesuap nasi dengan penuh harap.
Lapar juga mengajarkan kita untuk merasa. Untuk memahami dan menyelami derita yang tak kasatmata. Oleh sebab itu, dalam banyak tradisi spiritual, puasa dijadikan sarana untuk memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama.
Rasulullah SAW telah mencontohkan pola makan yang tidak berlebihan. Dalam sebuah hadis disebutkan, "Cukuplah bagi manusia beberapa suap makanan untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika ia harus makan lebih banyak, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga untuk napasnya." (HR. Tirmidzi).
Hadis tersebut bukan hanya petunjuk kesehatan. Di dalamnya mengandung ajaran agar manusia tidak tenggelam dalam kerakusan. Selain itu, juga mengandung ajakan agar manusia jangan sampai membutakan mata hati.
Sains modern pun mendukung gagasan ini. Dr. Yoshinori Ohsumi, pemenang Nobel bidang kedokteran (2016) mengungkapkan bahwa puasa dapat merangsang autophagy. Puasa adalah sebuah mekanisme regenerasi sel yang memungkinkan tubuh membersihkan bagian-bagian yang rusak dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan. Dengan demikian, lapar bukanlah sekadar kekosongan, melainkan proses alami yang menyehatkan fisik dan mental.
Lalu, di mana letak cinta dalam lapar? Cinta, sebagaimana lapar, adalah sesuatu yang kita rasakan dalam kekurangan, dalam pencarian, dalam kerinduan. Cinta yang tumbuh dalam kenyamanan dan kemewahan sering kali kehilangan esensinya.
Ia dapat menjadi sesuatu yang hambar, tanpa gairah, tanpa makna. Namun, cinta yang lahir dari keterbatasan, justru bertahan lebih lama. Keduanya, akan berusaha saling memahami dalam kesederhanaan.
Seperti seorang ibu yang menahan lapar demi anaknya. Seperti seorang suami yang mengerahkan tenaga terakhirnya demi menghidupi keluarganya. Itulah cinta yang bersemi dari lapar, cinta yang berakar pada pengorbanan.