life-style

Cahaya Sore

Rabu, 17 Juli 2024 | 23:18 WIB
Ilustrasi cahaya di laut, cerita rakyat. (pixabay/darkmoon_art)

Hari ini saya dapat rezeki berupa sebuah ucapan hikmah sekaligus nasehat bermakna dari bapak penjual sayuran pensiunan kerja dari salah satu BUMN:

Jika engkau nanti sudah mulai di panggil bos, dokter, jendral, ustadz, profesor, ketua yayasan, kepala sekolah, populer atau merasa hebat.

Maka jangan gengsi untuk sering-sering membersihkan WC, buang sampah, jalan kaki, bantuin pekerjaan rumah istri, makan seadanya atau main ketetangga yang kurang mampu.

Hal itu agar dapat menghilangkan sifat angkuh atau sombong, sebab kebanyakan manusia ketika sudah berada di atas mereka biasanya mulai memiliki sifat sombong, merasa paling dan gengsi.

Masya Allah, sebuah ucapan sekaligus nasehat untuk saya yang sangat bermakna.

Memang benar, bahwa sifat merasa lebih mulia dari orang lain, lebih baik dari yang lain, biasanya akan mengantarkan seseorang untuk memandang selainnya rendah, sehingga setan akan terus membujuk seseorang agar merasa bangga dan sombong.

Dan yang berbahanya lagi, semakin tinggi tingkat kesombongan kita, semakin sulit pula kita mengakui dan mengoreksinya.

Jika sombong karena materi mungkin kita mudah melihat dan merasakan.

Namun, sombong karena kedudukan, ilmu apalagi sombong karena kebaikan sangat sulit dilihat.

Sombong adalah penyakit hati yang sering menghinggapi kita semua.

Siapa saja dan apapun statusnya, bukanya hanya orang awam atau Bos, Bahkan di kalangan para ustadz, muballigh, kiai atau habaib, benih-benih kesombongan bisa muncul tanpa mereka sadari.

Padahal Rasulullah telah berpesan, siapa yang dalam hatinya ada sedikit saja sifat ini, maka tidak masuk surga.

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji debu. (HR. Muslim)

Nas-alullah as salaamah. Kita memohon kepada Allah dan semoga menghindarkan kita dari sifat seperti ini.

Tags

Terkini

Mutiara Pagi: Ucapan (Bagian 2229)

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:00 WIB

Mutiara Pagi: Diam atau Bersuara (Bagian 2228)

Selasa, 2 Juni 2026 | 07:02 WIB

Mutiara Pagi: Ruang Perjumpaan (Bagian 2227)

Senin, 1 Juni 2026 | 07:13 WIB

Mutiara Pagi: Kebaikan ( Bagian 2226)

Minggu, 31 Mei 2026 | 08:11 WIB

Mutiara Pagi: Logika (Bagian 2225)

Sabtu, 30 Mei 2026 | 06:20 WIB

Mutiara Pagi: Simfoni Kerinduan (Bagian 2224)

Jumat, 29 Mei 2026 | 06:30 WIB

Mutiara Pagi: Manusia Paripurna (Bagian 2223)

Kamis, 28 Mei 2026 | 07:17 WIB

Mutiara Pagi: Delapan Benda Langit (Bagian 2221)

Selasa, 26 Mei 2026 | 07:56 WIB

Mutiara Pagi: Musik dan Kehidupan (Bagian 2220)

Senin, 25 Mei 2026 | 07:45 WIB

Mutiara Pagi: Tangan Langit (Bagian 2219)

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:20 WIB

Mutiara Pagi: Istiqomah Terberat (Bagian 2218)

Sabtu, 23 Mei 2026 | 07:09 WIB

Mutiara Pagi: Menulis Kisah (Bagian 2216)

Kamis, 21 Mei 2026 | 06:43 WIB

Mutiara Pagi: Siklus Kehidupan ( Bagian 2215)

Rabu, 20 Mei 2026 | 07:00 WIB

Mutiara Pagi: Kata-kata Manusia (Bagian 2214)

Selasa, 19 Mei 2026 | 06:45 WIB

Mutiara Pagi: Kesibukan (Bagian 2212)

Minggu, 17 Mei 2026 | 08:32 WIB

Mutiara Pagi: Tajassus (Bagian 2211)

Sabtu, 16 Mei 2026 | 08:41 WIB