(Perpisahan kedua Hasan bin Tsabit dengan Sang Kekasih)
Kerinduan tak pernah hadir sebagai satu suara
namun selalu datang seperti alunan nada
perlahan menghiasi relung-relung jiwa
memenuhi ruang batin tanpa diminta
kadang ia berbisik dalam nyata
kadang menggema dalam mimpi
namun di antara keduanya
selalu datang tanpa kompromi
ketika ia hadir dalam mimpi
yang terasa bukan sekadar bahagia
melainkan hangat yang menyentuh hati
hingga duka luruh tanpa sisa
dengan syair yang terangkai begitu indah
dilukiskannya perjumpaan dengan sang kekasih:
"Wa laqad ra'aituka fī manamī laylatan
Fa nasitu ma qad kana min aḥzani";
Sungguh aku melihatmu
suatu malam dalam mimpiku
lalu aku pun melupakan
segala kesedihan yang kurasakan
"Wa ḥasibtu nawmi fi ḥuḍurika yaqẓatan
Ḥatta afaqtu ‘ala firaqin thanī";
aku mengira dalam tidurku
kehadiranmu adalah nyata
namun saat terbangun dari tidurku
ternyata perpisahan yang kedua
"Law kuntu a‘lamu anna al-ḥulma yajma‘una
La aghmaḍtu ṭula ad-dahri ajfanī";
seandainya aku tahu
bahwa mimpi dapat mempertemukan kita
niscaya akan kupejamkan mataku
sepanjang masa
sebuah syair yang tak sekadar mengingatkan
namun menyimpan hikmah dalam keheningan
bahwa mimpi yang menyapa kesadaran
adalah sentuhan lembut yang Tuhan berikan
Malang, 29 Mei 2026
Salam sehat,
M. Sinal