(Warisan terindah Nabi Ibrahim, Ismail, dan Ishaq)
Dari rahim sejarah
langit menuliskan arah
dengan diksi yang teramat suci
tentang poros peradaban yang abadi
sebuah cetak biru
yang tak terbatas waktu
mengikat masa lalu
dan masa depan menjadi satu
terlukis indah tiga cahaya
bukan sekadar nama dalam cerita
Ibrahim, Ismail, dan Ishaq
sebagai cermin cinta bapak dan anak
dengan "qalbun salim" yang utuh
Ibrahim berdiri di tengah semesta
melawan gelap tanpa pernah runtuh
mencari Tuhan tanpa lelah jiwa
dari cinta yang membelah rasa
lahirlah Ismail dengan jiwa yang mulia
"Ghulamin Halim", lembut namun perkasa
tenang dan taat, serta sangat bersahaja
dari keturunannya lahir bangsa yang tegar
keras seperti karang, namun berjiwa besar
hingga lahir Cahaya penutup zaman
yang menyempurnakan akhlak dan peradaban
dari langit yang sama
Ishaq hadir dengan cahaya yang berbeda
"Ghulamin ‘Alim", cerdas dalam makna
akalnya jernih, pikirannya sangat luar biasa
dari keturunannya lahir para nabi
Yakub, Yusuf, dan Musa pembawa hukum Ilahi
Daud dan Sulaiman membangun kekuasaan
serta Isa menutup rangkaian kasih dan keimanan
antara rasa dan logika
antara iman dan pikir
keduanya bertemu dalam jiwa
hingga peradaban menemukan takdir
tiga cahaya itu bukan sekadar sejarah
melainkan teladan yang tak kenal lelah
mengajarkan manusia cara menjalani hidup
dengan hati bersih yang tak pernah redup
manusia butuh Ibrahim dalam jiwanya
figur seorang bapak yang jernih hatinya
butuh Ismail dalam setiap generasi
kuat dan santun, serta tahan diuji
juga butuh Ishaq yang cerdas
membaca zaman dengan pikiran luas
bukan hanya mengikuti arus dunia
namun mampu mencipta arah dan makna
kita adalah bagian dari mereka
mewarisi cahaya yang tak kasat mata
jadikan keduanya sebagai cermin kehidupan
jadikan ketiganya sebagai teladan kehidupan
Malang, 27 Mei 2026
Salam sehat,