(Renungan kebangsaan Yudi Latif)
Sejarah tak hanya berdenyut oleh waktu,
tapi bergerak ke mana langkah hendak menuju
oleh mereka yang memilih berdiri
saat kebencian menjalar seperti kabut pagi
di sanalah, senyum harus dinyalakan:
senyum yang lahir dari tekad, bukan kenyamanan
Di tanah jauh bernama Amerika,
ketika luka Great Depression menggerogoti harapan,
Franklin D. Roosevelt menata ulang kepercayaan,
pelan, jujur, perlahan demi perlahan
dari puing ketakutan, ia merajut masa depan
hingga senyum pun kembali menemukan jalan
Di pulau kecil yang keras oleh keterbatasan,
Lee Kuan Yew menanam disiplin akar masa depan
Ia tak menjanjikan langit tanpa badai,
namun membangun keteguhan yang tak kunjung usai
dari tangan yang tegas, lahir ketertiban
hingga senyum pun tumbuh dari kerja dan kejujuran
Di bumi Afrika yang luka oleh Apartheid,
Mandela memilih memaafkan tanpa melupakan
Ia merajut bangsa dengan benang rekonsiliasi,
menghapus dendam tanpa rasa benci
dari luka yang dijahit perlahan,
senyum pun menjadi bahasa kemanusiaan
Di Tiongkok yang pernah mengalami kekacauan
oleh riuhnya revolusi kebudayaan,
Deng Xiaoping menukar slogan dengan kenyataan
Ia memilih hasil, bukan gemuruh kata,
membuka pintu masa depan dengan lapang dada
hingga senyum pun hadir sebagai buah dari cinta
semua itu mengajarkan bahwa sebuah bangsa
tidak akan pernah sejahtera
jika dibangun di atas kebencian
yang diwariskan dari zaman ke zaman
Malang, 29 April 2026
Salam sehat,
M. Sinal