(Pelajaran dari Jalaluddin Rumi dan guru Shams Tabrizi)
Sebuah cerita sederhana
saat Rumi bersama gurunya
sebotol cuka yang dibawanya
sarat persepsi dan prasangka
begitu cepat mereka berteriak
sebotol cuka disangka arak
tak ada yang bertanya
tak ada yang memastikan
sehingga botol yang berisi cuka
dikira arak yang memabukkan
Pujian pun berubah jadi cacian
berasal dari sumber yang sama
namun tidak dibela dengan kemarahan
oleh Jalaluddin Rumi maupun gurunya
Karena keduanya memahami
yang melukai bukanlah kata-kata mereka
melainkan kelekatannya pada penilaian mereka
apabila hati sudah lusuh
yang jernih pun tampak keruh
mabuk oleh persepsinya sendiri
tanpa mempertimbangkan kata hati
lidah menjadi hakim yang tergesa
karena rasa dikalahkan oleh prasangka
yang dilihat bukanlah benda
melainkan isi kepala yang bicara
menyusup lewat celah curiga
menutup pintu kebeningan jiwa
padahal kebenaran setenang air sumur
tak berteriak seperti daun di musim gugur
tetap tenang ketika reputasi diserang
membiarkan tuduhan tanpa perlu meradang
Malang, 3 Maret 2026
Salam sehat,
M. Sinal