life-style

Mutiara Pagi: Tiga Cahaya (Bagian 2041)

Kamis, 27 November 2025 | 06:58 WIB
Kelembutan cahaya pagi yang menyapa, tersimpan berbagai manfaat yang sering tak kita sadari. (Canva)


(Percakapan tiga orang sahabat)

Di beranda senja kota
Umar bertemu Hudzaifah
angin gurun membawa tanda tanya,
ketika sahabat itu saling sapa:
“Bagaimana kabarmu Hudzaifah?”

Dengan bahasa yang mengguncang udara,
Hudzaifah lalu menjawabnya,
“Wahai Amirul Mukminin”:
“Aku menyukai fitnah,
tidak menyukai kebenaran,
berkata sesuatu yang tak diciptakan,
menjadi saksi atas yang tak kulihat,
shalat tanpa wudhu,
dan memiliki sesuatu yang tak dimiliki Tuhan.”

Raut Umar memerah bagai api yang membara
tangan nyaris terangkat oleh marah yang sangat hebat
Namun teringat persaudaraan,
lalu amarah pun diturunkan
seperti matahari yang memilih kembali
menyinari langit dan bumi

Datanglah Ali,
penenang jiwa para pemberani
melihat badai yang berputar,
di wajah Umar yang sedang marah besar:
“Apa yang membuatmu gusar, wahai Umar?”
Kisah pun mengalir seperti air zamzam yang jernih

Ali tersenyum
senyum yang memecah kerasnya logika manusia
“Jangan marah oleh kata-katanya,”
ujarnya, lembut tapi penuh wibawa

Lalu ia buka satu per satu rahasia,
seperti angin membuka tirai gurun:

Fitnah yang ia sukai adalah anak dan harta,
amanah yang menguji hati manusia
Kebenaran yang tidak disukai adalah kematian,
tak bisa dielakkan walau kita berlari dalam doa
Berkata yang tak diciptakan adalah Al-Qur’an,
karena dia membacanya yang bukan mahluk
Kesaksian tanpa melihat adalah iman,
tidak butuh cahaya mata untuk mengenal Tuhan
Shalat tanpa wudhu adalah shalawat Nabi,
yang mengalir tanpa syarat air suci
Dan sesuatu yang ia miliki namun tak dimiliki Tuhan,
adalah istri dan anak kesayangan
karena Tuhan Mahasuci dari segala kebutuhan

Umar pun menghela nafasnya
seperti bebatuan terangkat dari dalam tanah
“Wahai Ali, engkau menghapus kabut dari dalam hati.”

Tiga sahabat, tiga hikmah,
tiga cahaya yang penuh makna
Mereka berbicara dengan bahasa
yang tak sekadar untaian kata
tapi menyentuh palung terdalam
untuk direnungkan dalam-dalam

Mengajarkan kita tentang keteladanan
bahwa kata-kata bisa menyesatkan
tetapi juga bisa menerangi
bila dibaca dengan mata hati

Malang, 27 November 2025
Salam sehat,

M. Sinal

Tags

Terkini

Mutiara Pagi: Kembali pada Diri (Bagian 2274)

Sabtu, 18 Juli 2026 | 06:20 WIB

Mutiara Pagi: Sembunyikan (Bagian 2273)

Jumat, 17 Juli 2026 | 05:47 WIB

Mutiara Pagi: Ketenangan Batin (Bagian 2272)

Kamis, 16 Juli 2026 | 06:03 WIB

Mutiara Pagi: Berikan Sebagian (Bagian 2270)

Selasa, 14 Juli 2026 | 06:32 WIB

Mutiara Pagi: Simpan Sebagian (Bagian 2269)

Senin, 13 Juli 2026 | 11:27 WIB

Mutiara Pagi: Perbedaan (Bagian 2268)

Minggu, 12 Juli 2026 | 06:58 WIB

Mutiara Pagi: Doa Saudara (Bagian 2266)

Jumat, 10 Juli 2026 | 06:37 WIB

Mutiara Pagi: Teruslah Belajar (Bagian 2263)

Selasa, 7 Juli 2026 | 07:44 WIB

Mutiara Pagi: Cahaya Ilmu (Bagian 2261)

Minggu, 5 Juli 2026 | 09:18 WIB

Mutiara Pagi: Hidup adalah Puisi (Bagian 2260)

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:19 WIB

Mutiara Pagi: Kedamaian (Bagian 2259)

Jumat, 3 Juli 2026 | 07:13 WIB

Mutiara Pagi: Kebaikan (Bagian 2258)

Kamis, 2 Juli 2026 | 07:35 WIB

Mutiara Pagi: Prasangka (Bagian 2256)

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:37 WIB