Ada tangan renta
Menunggu di beranda
Dulu mengajari kita
Mengeja peluh menjadi doa
Itulah tangan ibunda kita
Namun hari ini
Setelah seseorang berdasi
Dan berseragam dengan rapi
Lebih suka mencium tangan orang lain
Yang datang dengan tongkat, sorban, atau pin
Sementara tangan ibu,
yang dulu menahan malam,
dan panas demam
Kini seperti daun kering
Berada di ujung musim
Di televisi, podium, dan saf depan
Tangan mereka dicium dengan takzim
Hanya karena membubuhkan tanda tangan,
pada persoalan yang mereka butuhkan
Tangan ibu, seakan tak berarti lagi
Padahal dalam genggamannya
Pernah ada nasi dari sawah,
ikan dari para nelayan,
bukan dari sumbangan
Bahkan ada bedak dari tepung,
yang dibeli dari toko kelontong
Menjahit seragam dengan benang
Yang dibeli dari hasil menjual singkong
Kini, tangan ibu
Seolah-olah kehilangan harum
Meski surga yang diajarkan guru
Ternyata tumbuh dari telapak kaki ibu
Malang, 20 Juli 2025
Salam sehat,
M. Sinal